Nulis Puisi

Ingatan Senja

Bertemu petang. Diantara kegelapan dan cahaya kontemporer. Mengagungkan kekuasan-Nya untuk berbuat. Menemuimu adalah jejak. Mengenalmu adalah takdir. Karena garisan darah ini semuanya bisa terjadi. Suatu kehidupan indah dari petikan sejarah. Terakhir ku temui adalah 5 tahun lalu. Wajah nya pucat tak banyak berkata. Beliau hanya ingin mengucapkan beberapa pesan saat bertemu. Sepertiga malam, beliau menghentikan segalanya. Ucapan, nafas, dan segala gejolak rindu dengan kebaikannya. Aku sempat menemui nya saat terbungkus kain putih, mengucapkan beberapa bisikan kecil di telinganya, meneteskan air mata, dan membacakan 7 ayat dalam surat pertama. Setelah membayangkan, senja yang telah kulihat dan perekam seluruh pikiran telah berganti malam. Warna nya makin menyala di ujung langit. Tidak tenggelam, hanya pijakan ku yang berputar.

Bertemu malam. Diantara kegelapan dan cahaya elektrik. Mengagungkan kekuasan cipta-Nya untuk berkuasa. Menemuimu adalah jejak. Mengenalmu adalah takdir. Karena garisan darah ini semuanya bisa terjadi. Kami melingkar bersama, membuka beberapa lembaran di surat ke 36, meng-Amini segala ucapan baik di malam itu. Selalu setiap tahun. Menikmatinya.

Untuk Alm. Kakek dan segala kejadian yang diingat saat senja menemani perjalanan. Untuk Keluarga Besar dan kepandaian menciptakan hal baik di generasi berikutnya. Senja usai.

Image

One thought on “Ingatan Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s