Nulis Puisi

Menyapa jarak

Harusnya hari itu kita tidak bertemu. Perjalanan berliku masih membasahi hati dan pikiran masih membayangi. Bahkan mata ini tidak mampu menatap walau saat itu jarak tidak menghalangi. Bahkan jika terurai kalimat, semua akan menjadi paragraf tanpa titik. Kaki ini sudah letih untuk selalu berlari. Raga ini sudah terhenti untuk selalu pergi. Masihkah harus aku berkata merangkai setiap kejadian yang ada. Kembali. Begitu. Masihkah harus aku mengulang setiap tangisan rasional. Masihkah hidup mu seperti apa yang ku tahu seperti sajak meninggikan kata. Andai. Kataku harusnya hari itu jarak tidak memberi ruang. Membiarkan menjadi ambang antara kita. Memisahkan segala ketiadaan yang sudah terangkai seperti ingin ku. Tapi mengapa hari itu, jarak begitu dekat menghampiri. Aku benar-benar menyapa jarak. Meniduri bayangan mimpi disaat gelap hari dan membekukan beberapa jemari.

Bercerita melalui puisi. Mengungkapkan beberapa isi hati tanpa menghalangi kedatangan hati, Karena sebuah jarak ikut bercerita. Karena sebuah jarak memiliki kesan. Karena sebuah jarak memberi magnet antara kehidupan nyata dan maya. Karena jarak menjawab perasaan yang telah hilang.

2 thoughts on “Menyapa jarak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s