Dan Lain Lain

Antara IPK dan Empati

Dikampus saya, atau mungkin lebih tepatnya di fakultas saya. Kata empati sudah menjadi pemaknaan yang harus semua mahasiswa miliki. Setidaknya, jika kita belum bisa memberikan empati terhadap orang banyak diluar sana. Ya, kita mencoba terhadap orang yang dekat dengan kita. Keluarga, teman, dosen, tetangga, pacar. Siapapun mereka yang setidaknya kamu ikut merasakan rasa emosional mereka. Perlu di garis bawahi, emosi bukan hanya rasa marah. Tapi setiap perasaan, entah itu senang, sedih, atau juga kecewa. Setelah 4 semester kuliah, saya benar-benar tau, empati menjadi kata yang umum sering terdengar, sering di sebut, sering dijadikan pembahasan saat dikelas, atau pun pembicaraan sehari-hari mahasiswa. Walau saya meyakini, diri saya tidak selalu memaknaan empati dengan baik. Tapi yang saya yakini juga, saya tetap berusaha empati dengan cara saya sendiri. Dan saya lebih yakin, bahwa teman-teman saya dengan jurusan yang sama atau pun beda, semuanya tetap berusaha menjadi pribadi yang empati.

Saya menulis ini, karena kecewa terhadap kejadian beberapa hari lalu dikampus. Saya kecewa, karena melihat seorang teman yang tidak empati terhadap sahabat nya. Oke, saya tidak mempermasalahkan terlalu panjang kejadian beberapa hari yang lalu itu. Tapi yang bikin saya benar-benar ga ngerti, dia adalah mahasiswa dengan IPK 3,3. Dan saya yakin, jika di suruh menjelaskan teori tentang empati dan semacamnya. Dia pasti bisa menjelaskan dengan lancar. Bahkan pasti lebih lancar dari saya. Tapi kenapa di hari itu, dia sama sekali tidak menunjukan empati nya. Padahal terhadap sahabat, bukan orang lain. Bagi saya, percuma teman saya ini punya IPK 3,3 tapi teori-teori yang dia punya, sama sekali ga dia aplikasikan dalam kehidupan nyata. Sumpah saya kecewa.

Seorang teman saya dengan satu jurusan yang sama. Setau saya, IPK dia 1,7 kalo gasalah. Atau mungkin sekarang 1,9. Saya lupa. Yang pasti, dalam beberapa hal atau beberapa kejadian dikampus yang sudah saya alami selama 4 semester ini, saya mengenal dia adalah orang yang punya empati. Dia selalu menunjukan untuk berusaha melakukan empati terhadap orang di sekitar dia. Dia punya cara tersendiri untuk tidak mempunyai sikap acuh terhadap orang. Mungkin jika minta dijelaskan pengertian empati, dia menjawab hanya satu atau dua kalimat. Tapi dalam kehidupan nyata, dia lebih paham harus seperti apa terhadap orang lain.

Sudah banyak di ketahui orang, di fakultas saya, mencapai IPK tinggi benar-benar sulit. Karena setiap saya bertanya dengan teman di kampus lain IPK mereka rata-rata 3,5 – 3,8. Saya ngebayangin, itu nilai rata-rata nya kayanya A, mungkin yang B hanya beberapa. Amazing sekali bagi saya, dosen nya baik hati memberi banyak nilai A terhadap banyak mahasiswa hehehe. Coba di fakultas saya gitu, lulus 4 taun pasti lebih dari 50 orang setiap taunnya. Ini sih boro-boro susah nya minta ampun. Jadi jika tadi ada seorang teman saya dengan IPK 3,3 itu termasuk benar-benar sulit. Percayalah! :p

Anyway, di tulisan ini saya tidak bermaksud membandingkan dua orang teman dengan IPK mereka, saya hanya share bahwa kehidupan ini tidak tergantung dengan nilai yang telah ada. Sangat disayangkan selama 4 semester dengan penilaian yang bagus tetapi aplikasi nyata nya sangat buruk. Trims. Maha-siswa!

3 thoughts on “Antara IPK dan Empati

  1. well,
    IPK lah yang pertama kali ditanya ketika hendak melamar pekerjaan. saya sendiri bingung, kenapa ‘nilai’ selalu menjadi patokan dalam setiap langkah kehidupan ini. padahal sebenarnya, proses adalah hal yang paling essensial.

    realita hidup memang tidak akan mengenal filosofi construtivism, tapi lebih mengarah kepada pragmatisme. maka tidak heran jika banyak mahasiswa lebih mengutamakan mengjar nilai daripada ilmu itu sendiri. hingga ada mahasiswa yang rela ‘menjilat pantat dosen’ hanya untuk mendapatkan nilai.

    ini pahit, tapi ini lah hidup kawan.

    1. Rugi banget ya, sd – sma 12 taun. Kuliah 4-5 taun. Mau kerja yang ditanya cuma IPK. Ya mungkin mereka mengejar nilai juga karena punya target membanggakan orang tua juga, dengan lulus tepat waktu, IPK tinggi, kerja cepet. Rata-rata seperti itu kan.
      Eh tapi saya ga pernah punya pemikiran untuk melamar pekerjaan loh hahahaπŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s