Dan Lain Lain · Nulis Puisi

Percakapan hati

Dalam beberapa lirikan. Kegundahan menyertai setiap nafas. Setiap kerapuhan hidup yang dimiliki, di selimuti raut wajah kaku. Kalau saja waktu itu berlian ada di tangan. Detik ini, matahari tidak akan menjadi saksi. Garis luhur darah ku membiarkan. Menunjukan bahwa ada sesuatu mengawasi setiap langkah. Celotehan dalam beberapa waktu seakan menjadi pedoman. Turut menjadi bagian menghilangkan dahaga batin. Lagi-lagi lirikan. Seakan-akan tau bahwa sesuatu tidak harus menjadi miliknya. Biarkan menjadi catatan sebuah impian di hati. Telah terangkai dan ingin berkembang. Sang semesta mendengarkan setiap waktu perkataan bisu. Tawaran sebagai pelengkap rantaian percakapan. Dan tolakan sebagai anggukan dihati pelengkap lelah. Setiap satu lirikan yang telah terlihat, guguran daun tertiup angin seperti pemberi ide dalam perjalanan hidup. Kalau saja, akan menjelaskan beberapa cita. Bukan merupakan garis demi garis tapi percakapan demi percakapan. Dengan Tuhan.

Bercerita melalui puisi, menuliskan sebuah catatan dan impian kecil dari seorang anak-anak di pinggiran jalan trunojoyo dan taman maluku. Memikul beban di badan, otak, dan hati. Ada harapan namun tak bisa mengadu. Hanya sang semesta yang setia. Mendengar setiap percakapan di relung hati, dan percikan doa dari setiap darah yang mengalir ditubuhnya. Semoga lain waktu, keajaiban menyertai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s