Nulis Puisi

Perkataan

Amarah sedang diguncang ketidaksanggupan mengeluh. Membiarkan jutaan pernyataan yang menjadi pertanyaan terkumpul dalam satu batin. Biarkan sang pemberi rasa ini yang menjaga. Bahkan udara pagi pun hanya mampu memberi angin kesejukan. Tidak diberi kehangatan.

Jawaban adalah setiap pemikiran yang terucap lugas. Terbiasa tak terjamah. Tak tertunda memberi jarak. Seperti nya amarah masih menyimpan nya dengan baik. Lelah untuk selalu menjadikan keluar diri. Lelah bukan berarti lemah bukan? Walau menangis adalah satu-satu nya jalan untuk menghindar. Walau cacian dalam hati hanya terucapkan melalui baris sajak. Walau setelah itu terlelap menjadi ketenangan. Tapi ini nyata. Namun mengapa setiap perkataan membuat arti tanpa lelah menjawab. Jelas bukan pertanyaan. Aku tidak memberi tanda tanya bukan? Partikel-partikel dalam tubuh bergelombang memberi jawab. Namun kembali, hanya sajak yang memberi ruang untuk ketidaksanggupan diri.

Bercerita melalui puisi. Teruntuk sebuah perkataan, Sering terulang terucap, seiring dengan air mata. Pagi ini. Menulis dengan ditemani suara kicauan burung depan jendela. Dan musik akustik yang bermain. Menjelang siang biarkan aku tersenyum kembali. Sang pemilik segala rasa yang ada. Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s