Nulis Puisi

Janji

“Aku tidak menepati janji. Setelah puluhan lembar. Kalimat terakhir adalah janji untuk melanjutkan menulis. Kenyataan nya 6 Januari. Aku menangisi puluhan lembaran itu. Rencana memang. Tidak aku selipkan niat dalam rencana. Sampai setelah bulan ke empat, aku membuka puluhan lembar. Teringat sudah akan cerita janji. Aku memang tidak menepati janji untuk melanjutkan menulis. Tapi sungguh, aku menuliskan dalam realita. Dan sudah terselipkan sebuah niat. Hadir nya terlaksana. Senyumku kembali dan aku berlari. Begini hidup. Jika kamu mengatakan tidak tahu arah. Apa yang harus di ragukan? Arah akan memberimu petunjuk hidup. Biarkan kamu tersesat terlebih dahulu. Dibandingkan kamu menemui jalan buntu. Seperti satu beban lepas. Satu janji sudah penuh walau termakan waktu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s