Nulis Puisi

Pelajaran sabtu malam

Asap rokok sudah memasuki ruangan. Ada yang berkata anjing. Juga melempar kursi. Persediaan arak seperti nya masih menanti. Mabuk. Ada fantasi mengelilingi dunia pesta. Dulu, setidaknya ada singgah sebagai panutan. Tapi mata salah menilai. Kalimat maaf tidak terkontrol adalah alasan. Bodoh sekali kalimat itu. Berawal mengenakan serba hitam, berakhir mengenakan batik. Picik. Akting dijadikan komoditi semata. Berganti peran menyamai panggung. Bangga. Anjing, adanya simulasi adalah omong kosong. Sama seperti perilaku liar saat hari itu.

Bercerita melalui puisi. Kecewa terhadap perbedaan generasi. Mengenai hidup. Serta kebencian terhadap manusia berhati mati, berperan multi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s