Nulis Puisi

Cermin

Bukti tidak sistematis adalah ketika bayangan menjelma dalam gelap nya mata. Putaran dunia seakan mengelilingi awal kisah di antara sudut pandang sang dewa. Jika bisa memanjakan setiap kata terucap sudah pasti melebihi kaya makna. Jam dinding beradu. Bait sajak terasa syahdu. Sampai kota menyuarakan adzan, aku menjadi candu. Gerhana terdengar rancu karena setiap insan hanya tau mereka menyatu. Sebagian atau penuh adalah minoritas siapa yang tau. Ini adalah pembicaraan dengan cermin. Dimana aku juga kamu memandang jauh. Segala kesadaran dalam sosok wanita yang memaksa tidak rapuh. Jangan banyak bicara saat kaki melangkah mendekat. Jangan banyak berpaling saat kamu muak dengan kasar menyapa. Aku adalah raja. Kamu turuti agar tidak tersakiti. Tertawa saat ini adalah interaksi melupakan cermin. Akan ku gugurkan awan jika sujudmu sudah terwujud. Cermin akan tau setelah terbelah di tanganku. Desa kembang membisu.

2 thoughts on “Cermin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s