Dan Lain Lain

Namanya, Opik

Awal mula perkenalan saya dengan Opik adalah waktu sama-sama nunggu angkot, di salah satu komplek di kabupaten Bandung. Tepatnya tadi sore. Saya bersama Dinni dan Ucup sepulang dari rumah Ardizza. Perkenalan singkat memang. Hanya sekedar basa-basi karena menunggu angkot yang cukup lama. Hari itu Opik baru pulang dari warnet, saya dan teman-teman mengeluarkan celotehan semacam “cieee maen games nih” – jauh dikira dari dugaan. Opik bilang dia numpang tidur di warnet. Sampai duduk di angkot, saya tanya kenapa tidur di warnet. Opik cerita, dia dimarahin Ayah dan akhirnya tidur di warnet. Pandangan mata nya jarang melihat mata saya, tapi sesekali senyum sambil nunduk. Saya dan Opik ternyata naik angkot yang satu arah, sampai akhirnya kami naik angkot selanjutnya dan bareng lagi. Ongkos Opik ditanggung sama saya dan teman-teman. Dia cukup bilang makasih dan akhirnya melanjutkan percakapan di angkot selanjutnya. Saya cukup banyak nanya tentang Opik. Saya rangkum dibawah ini.

Opik sekarang kelas 3 di salah satu SD di kabupaten Bandung. Dia anak pertama dari empat bersaudara. Adik perempuan nya satu, adik laki-laki nya dua. Di umur sekarang, mungkin seharusnya Opik lagi menikmati masa-masa liburan sekolah seperti anak-anak yang lain nya. Tapi keberuntungan lagi gada di dalam genggaman nya. Hampir tiap hari Opik tidur di warnet, katanya habis dimarahin Ayah. Saya gatau alasan yang pasti apa. Mungkin Opik takut, terus kabur atau mungkin Opik ga betah tinggal dirumah. Saya bener-bener gatau. Kadang kalau ga tidur di warnet, Opik tidur di depan salah satu minimarket. Sedih waktu denger cerita Opik yang keliatan bicara apa adanya. Hari itu Opik dapet uang dari “aa warnet” gitu pangilan Opik kepada penjaga warnet disana. Buat ongkos katanya. Saya lihat uangnya beberapa lembar pecahan 2 ribu. Opik pegang uang nya dan hanya melipat-lipatnya. Ayah nya kerja sebagai tukang sampah. Ibu nya sebagai ibu rumah tangga. Dipikiran saya, bekerja sebagai tukang sampah dan harus menghidupi satu keluarga dengan 4 anak. Cukup kah? Tapi syukurlah, karena Opik mendapatkan sekolah gratis. Setidaknya meringankan biaya hidup dari satu keluarga ini. Dia mendapat ranking 7 saat pembagian rapot kemarin. Saya cukup senang mendengarnya. Setidaknya dia berusaha untuk membuat orang tua nya bangga. Opik tidak dicari atau dikhawatirkan orang tua nya saat Opik ga pulang kerumah. Kata Opik, gada yang nyariin atau nanyain. Semakin banyak ngobrol, Opik sudah mengeluarkan banyak senyuman, seperti punya semangat baru. Ya setidaknya tidak banyak menunduk seperti sebelumnya.

Hari itu Opik belum makan. Dompet saya cuma ada uang 20 rb. Nyesel tadi ga ambil uang dulu ke ATM, dan pas turun angkot. Jreng, tepat depan saya ada kantor dari bank tersebut dan ada ATM nya. Beruntung banget. Saya bisa ambil uang untuk ongkos pulang dan buat beli makan Opik. Makanan nya sengaja saya bungkus soalnya saya takut kemaleman pulang kerumah. Opik langsung makan makanan yang tadi dibeli, lahap banget. Mungkin dia laper.

Di Senin yang super penuh berkah ini, saya cuma berharap Opik ada di tempat yang selayaknya dia tempati. Opik jangan lagi tidur di warnet atau depan minimarket. Setidaknya, Opik tinggal dirumah mendapat kasih sayang dari kedua orang tua nya. Semoga di kenaikan kelas selanjutnya, Opik mendapat ranking yang lebih baik. Ranking 1 atau masuk dalam 5 besar. Saya yakin dia punya kemauan buat dirinya sendiri. Buktinya dia bisa tidur dimana saja, karena dia punya kemauan untuk tidak bertemu ayah nya saat dia kena marah. Cerdik sekali. Semoga semua teman-teman yang baca ini, memberi banyak doa buat Opik. Buat kebahagiaan dia, dan kebahagiaan antar sesama manusia. Jangan lupa, kita bisa belajar dari siapapun dan apapun. Ini salah satu bukti nyata (lagi) yang saya rasakan, tentang belajar dariΒ  keseharian satu pandangan mata.

Anyway.. saya, temen-temen, dan Opik naik 3 kali angkot. Untuk angkot yang terakhir, saya pikir Opik cuma bakal bilang makasih. Dugaan saya salah. Lebih dari itu ternyata. Opik turun angkot sambil bilang “makasih Teh. Assalamualaikum” – Kaki Opik melangkah di telan malam yang semakin gelap.

Selamat malam, Opik.

2 thoughts on “Namanya, Opik

  1. gimana bapaknya ga setres itu? pekerjaannya sebagai tukang sampah, harus ngempanin anaknya yg 4 orang masih kecil2 sama si istri yg kerjanya ibu rumah tangga..

    gini nih akibatnya kalo nikah sebelom mapan. kelahiran tidak terkontrol, menambah jumlah orang2 seperti bapaknya Opik ini.

    kesian tu bocah dah ranking 7 kabur2an hidupnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s