Nulis Puisi

Berdering

Secangkir kopi hangat terletak di meja depan ku. Aku meminumnya sedikit demi sedikit. Karena aku masih ingin bertemu manis nya cinta di pagi hari. Aku seperti menolak kepahitan yang ada menjemukan satu rasa. Komunikasi akan ku diamkan dalam hari ini. Membenci untuk segala kesibukan melanda daun-daun yang bergugur ditemani angin kencang dan burung terbang. Jika tau kamu melemparkan pena dalam kain putih terbungkus pita hitam. Akan terbalaskan potret monokrom untukmu yang ku kirimkan lewat pesan antar cinta. Mau? Akan ku persiapkan dalam suara nyaring dalam benda mati. Kamu akan menikmati hidupmu selanjutnya walau tidak lagi membaca surat cinta ku. Ponsel ku terus berdering menggangu aku, seseorang yang sedang melukis pelangi saat bangun dari tidur semalam.Β  Sudah keberapa kali nya berdering dan goresan ku tidak lagi teratur. Hingga getaran dering hilang. Setelah ponsel ku masukan dalam secangkir kopi hangat yang masih terasa manis. Kamu tenggelam. Dalam buih-buih kepahitan zaman.

Sekedar sajak.

4 thoughts on “Berdering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s