Nulis Puisi

Benci

Apa yang mau diharapkan dari hati yang membeku melebihi laut mati? Kericuhan pagi ini adalah akibat badai menerjang selama berhari-hari. Memuncak dalam kebencian satu waktu ketika uluran rizki sedang melintasi siapapun yang membuka mata. Aku tidak menyalahkan antara kemarahan antara orang-orang yang teriakan nya bising sakit di kuping. Hanya cacian diri mencari dimana aku harus bersembunyi dalam setiap ketakutan yang ada. Bohong rasanya untuk tidak kembali menangis dalam menyambut pagi. Ku teriaki anjing satu persatu kecuali beliau yang meraung hati nya kesakitan. Setiap kali dalam hitungan tahun, aku benci cerita ini. Aku melebihi benci saat harus terkena pukul dan tubuhku membiru. Aku melebihi benci saat harus mengingat ini. Aku melebihi benci saat nafas ku sesak menahan air mata.

Sekedar sajak. Andai mengerti.

4 thoughts on “Benci

  1. sekilas coba untuk memahami…
    setiap deret, kata yang bersambut-sambut…
    ku tak tau, apa yang terjadi, hingga kau tulis kata-kata pengantar perih…
    hanya ku ingin, jika ia nanti kembli terulang seperti mentari yang berulang menyinari…
    aku ingin kau tau, tak sedikit pun itu sama…
    dengan do’a ku, saat ku baca semua…
    dan semoga kau tetap tak lupa cara untuk tersenyum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s