Nulis Puisi

Izinkan aku untuk menangisi kembali, untuk mengenang yang telah lalu. Wahai pujangga, air mata ini tak pernah berguna namun aku rela melepaskan setiap tetes nya.

Pernah datang suatu ketika, ada seseorang datang membawa maaf serta luka perih meringis. Digenggamnya sebuah cerita pahit untuk aku ketahui ditemani tangis.

Dimana letak kesalahanku, jika aku boleh mengambilnya?

Bahkan hati ini tak pernah meminta untuk datang sekalipun. Selalu saja, kau yang memulai untuk mencari pilihan jalan pulang untuk duduk sampai bermuara dipenuhi bisikkan mengalun.

Waktu cepat untuk merubah jawab, setau ku memang itu. Dan Tuhan mengerti bahwa semakin cepat untuk berakhir, maka ada satu kebangkitan baru untuk mejadi seorang ratu.

Walau hati masih ragu dalam setiap langkah.

Izinkan aku untuk menangisi apa yang berjalan dalam kehidupan dan kembali melupakan agar tidak pernah sekalipun untuk terulang.

Pernah suatu malam bersama seorang sahabat, kamu mengumbar penuh janji menggebu dalam keyakinan. Bahkan aku pun mempunyai sebuah janji untuk mundur dari satu rasa walau belum pernah terungkap, namun waktu menjawab perlahan.

Haruskah pagi ini mengenang peristiwa demi peristiwa yang sebenarnya harus ku caci sedemikian rupa tanpa menangis. Kamu tau jawabnya.

Hanya harus dibutakan karena, sebuah ego yang datang dan tak pernah mendengar kata-kata-ku, kata-mu.

Sekedar sajak.

12 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s