Nulis Puisi

Catatan waktu

Dua tahun silam

Sudah tidak ada lagi zat adiktif menempel pada jiwa ini sehingga saat kamu pergi aku masih bisa berdiri tanpa tangis. Sudah tidak ada lagi ketergantungan akan sebuah perasaan yang membuat hidup tak beraturan. Sudah setia kembali aku disini untuk melihat detik demi detik yang sangat cepat membuang mu dalam pikiran. Jadilah seperti meteor yang bertabrakan jatuh ke muka bumi dan panas nya segera merambat tanpa menunggu hari.

Satu tahun silam

Masih saja menggangu ketenangan dalam linangan air mata yang dibenci orang-orang untuk menjawab potret diri. Membiarkan angan menjadikan kamu adalah seseorang yang keputusan nya sebelah pihak tanpa tahu tujuan. Kekasih seperti rangkaian huruf-huruf dalam bayangan yang jejak nya cepat hilang di sapu hujan. Aku tak pernah mau untuk menjadikan cerita walau hanya satu paragraf dalam tulisan ku. Karena, akan banyak tipuan palsu dan bahasa kaku.

Enam bulan

Pelangi masih bercahaya setelah menunggu hujan reda, sampai tak pernah ada batas antara aku dan kamu, tak pernah ada jeda. Sorotan mata mu menjadi sangat terang ketika tau bahwa ada rasa tersirat melalui malam-malam bersama hening. Andai dimengerti bahwa ini sangat tidak dikehendaki oleh siapapun yang melihat hanya dalam sekejap. Hari membuat memuai, waktu membuat terbuai, dan hati ini tak pernah memberi langkah untuk memulai. Lantas, apa yang telah tercapai? Aku mengerti bahwa tak pernah ada titik jika kita tak berani mengambil sesuatu yang riskan. Ya, untuk sebuah janji di masa depan.

“Apa yang kamu pikirkan tentang saya? Pikirkan saja dirimu, tuan..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s