Nulis Puisi

Dini diam kebohongan

Diam tak pernah salah dalam relasi. Tak tahu arah dan mengisi setiap relung ilusi. Aku takkan pernah rela ketika diam menangisi apa yang tidak pernah terjadi. Aku terasing. Langit sudah jemu memandang setiap gemuruh berteriak nama

Sore ini, suara adzan begitu mengingatkan bahwa hidup ini bukan sesuatu yang abadi. Namun, ada kisah misteri yang selalu terbagi. Menjadi setiap emosi yang tak tahu bagaimana menunjukan dini dalam ekspresi. Baginya semua larut dalam dusta-dusta pusaka. Terkadang pahitnya pun tertelan sangat memaksa. Menyentuh raga dan berbisik lirih menyapa angin, dini diam kebohongan.

Kebohongan, teruntuk kebodohan yang tercipta karena janji tak terpenuhi. Berlari kencang pun takkan mampu untuk mengejar angin yang masuk ke dalam setiap nafas. Semua begitu cepat dan melekat, untuk sebuah dini. Hari-hari berubah abu serupa hitam yang tak ingin menyatu. Melepaskan diri dengan unsur cinta yang terbawa mati, semua sunyi dan detik pun mencaci. Kepada waktu yang terbuang sia-sia karena diam. Kepada alam yang tak kunjungi dialami karena fana. Kepada suara-suara bersautan. Kepada tangan-tangan berpelukan.

Semua tak terjadi jika hati tak memaksa diri untuk dini diam dalam kebohongan yang tersimpan. Aku berujar kepada langit-langit gelap yang terselubung. Semua kembali pada diam dan kelam. Sekedar sajak.

3 thoughts on “Dini diam kebohongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s