Nulis Puisi

Sekali, satu langit

Aku terjebak dalam lorong sepi tanpa cahaya. Hanyut bersama lamunan memburu suara-suara malam. Berjalan berpegang sudut yang tak pernah habis. Berlari bersama memutar waktu menghabiskan detik. Selayaknya janji yang menggebu tak tersampaikan, getir nya laksana memeluk bayangan tak henti – tak kembali.

Aku dan kamu bertemu dalam langit jingga. Dipertemukan oleh hujan sebagai penghantar masa lalu. Merah nya, menatap. Membisikan pesan secara perlahan. Tak perlu menunggu, kita akan tetap bersama dalam sebuah doa, kepada Tuhan.

Sekedar sajak.

2 thoughts on “Sekali, satu langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s