Nulis Puisi

April dan akhir pertemuan kita

Tak pernah ada yang salah diantara malam yang menjemput angin untuk menemani tidur. Bahkan beberapa orang memilih untuk bertemu dengan lembur. Aku tau, kamu tau, Tuhan tau, kita sedang berada di balik kenaifan sendiri-sendiri. Memaksakan untuk berjalan tetapi bayangan kita sudah berlari. Menjauhi hari dan hujan deras yang membasahi. Terkadang tanah, terkadang hati. Gemuruh yang berulang tanpa kita mengerti.

Pertemuan kita adalah janji singkat Tuhan yang manis. Terasanya hingga aku melupakan dengan cepat setiap sisa yang ada di ujung batas. Keyakinan ini meraut hingga runcing. Aku tidak ingin, jika akhir pertemuan ini menjadi patah yang melukai. Rasanya seperti membuang mimpi indah saat bangun pagi tanpa doa yang mengantar. Semua sepi dan kenangan menghampiri.

Pertemuan kita adalah jingga yang dipeluk abu. Sulit menyatu untuk berbagi menjadi pelangi. Maka, derasnya pernah mengenai kulit ini dengan firasat yang telah membeku. Tak pernah kembali setelah April menghilangkan banyak tanda tanya yang menderu. Tak terhenti, tak berganti.

Aku akan meninggalkan tanya yang tak terjawab pada April, membiarkan kenangan semakin melaju mencari arah untuk menahan rasa. Sebuah ruang temu, harapan, dan perpisahan yang menyatu menjadi lingkaran masa.

Untuk April dan akhir pertemuan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s