Nulis Puisi

Ruang Tunggu

Bola mata ini memainkan pandangan pada jam dinding paviliun. Suara detik nya menelusuri perlahan apa yang terpikir. Tembok-tembok menguning. Atapnya rapuh terkena rembasan hujan bertahun-tahun. Kursi kayu menua, namun kokoh tak termakan usia. Jendela menyamarkan basah nya hujan dan angin kencang. Dingin nya menusuk kulit di celah-celah jendela yang terbuka.

Aku berharap hujan segera menghentikan setiap deru nya. Lalu menghampiri pelangi dan meminta nya untuk hadir tanpa penolakan. Rasanya seperti kenikmatan dua indra yang berbeda. Penglihatan dan penciuman. Aku melihat warna nya yang teduh, dan aku mencium sisa-sisa air yang menyentuh tanah. Kombinasi agung. Aku suka itu.

Sore semakin sepi. Ruang ini semakin sunyi. Hujan pun menyusul untuk berhenti. Aku menatapnya sangat dalam, hingga tingkat kesadaran bersemayam di ujung batas. Pergi menjauh adalah cara ku untuk berharap pada kesendirian. Nanti, mungkin kita akan bertemu kembali, Tuan.

Sekedar sajak..

2 thoughts on “Ruang Tunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s