Nulis Puisi

Menunggu Tuan

Aku setuju dengan tuan, menunggu itu membuat jemu. Menghabiskan setiap waktu yang bersemayam tak menentu. Detik demi detik semakin cepat untuk berlalu. Mengelabui guyonan semalam yang tak kunjung reda di balik ruang temu.

Aku setuju dengan tuan, menunggu adalah hal yang membosankan. Seketika dalam renung, energi habis tak tersisakan. Mencabut setiap nyawa yang terkumpul menjadi satu ikatan.

Tapi yang perlu tuan tahu, menunggu tuan membuka mata adalah keajaiban. Menemui tuan dibalik kaca adalah kepedihan. Menangisi cinta Nya kepada tuan adalah ketegaran.

Burung-burung sudah pergi. Mentari menyembunyikan diri, menunggu hujan di mata ku mengering. Purnama sudah pergi, menunggu kabut di hati ku tersapu. Senja sudah tiada, menunggu pelangi di hari-hari ku memeluk jingga. Semua menunggu, dan tuan takkan pernah tahu.

Semua berakhir membalikkan mimpi. Tuan benci menunggu, dan aku setia menunggu. Dara berpangku pada asa yang membatu.

2 thoughts on “Menunggu Tuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s