Nulis Puisi

Sungguh, kamu

Sungguh, kata-kata mu adalah candu. Aku menemukan nya dalam sebongkah suara malam yang merdu. Menata nya kembali dalam hati yang sempat layu.

Sungguh, sekarang langit sedang menduduki kursi saksi. Melukiskan indah nya wajahmu diantara rasi. Mensisipkan bintang jatuh, ke jurang tak berpagar, hati.

Sungguh, bisikan mu menenggelamkan rasa pada kekosongan ruang. Laksana kunang-kunang, kamu adalah terang. Laksana sapaan siang, kamu adalah tuntunan pulang.

Bisakah aku meminta pada langit?

Tuk menyimpan sedikit bayang mu pada ku.

Tuk menggerakan hati agar tak kaku.

Tuk menemui di dalam mimpi yang berjejak.

Bisakah aku meminta pada langit?

Beri aku jalan seperti pelangi untuk berpijak di hati mu.

Walau sejenak, semua seolah dekat.

Untuk @GustiFullah dalam tulisan #DuetPuisi

One thought on “Sungguh, kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s