Nulis Puisi

Harapan diam-diam

Semangkuk kolak yang masuk ke dalam tubuh ini. Menunggu menyeluruh hingga manisnya masuk ke dalam hati. Air nya bergejolak menyebutkan harapan yang hangat tak terkendali.

Semangkuk kolak yang kita nikmati dikala senja. Bersama ibu, kita diam-diam berbicara mengenai rasa yang sedang menyatu. Bersama ayah, kita memasang wajah sendu seakan tak berdaya.

Raja penggoda rasa di hatiku.

Sudahkah Tuhan menyampaikan ingin ku, di kala kamu tertidur? Aku menitipkan nya pada sujud semalam yang dipeluk dingin.

Seperti gugup, aku masih ingin tuk mencicipi hangat nya semangkuk kolak penuh rindu. Membawa tenang nya setiap belaian mu. Juga senyum yang selalu terpancarkan darimu. Melelehkan setiap kebekuan yang sedang ku rasa.

Ibu dan Ayah menaruh semangkuk kolak. Meninggalkan sebuah percakapan dengan tatapan tajam, seolah mata nya terbangun dari langit yang terpejam.

Kini ada banyak pertanyaan yang melintas di sesat nya bayangan. Mengganggu tanpa berharap yang tak pasti.

Pada mu, raja yang tau isi hati

Harapan ku laksana semangkuk kolak ini. Berharap ucapan halal mengayomi setiap kunyahan yang menjelma. Mengarungi setiap manisnya kehidupan di masa yang halal untuk yang pertama. Menjelajahi kehidupan kita berdua yang diyakini untuk dinikmati bersama. Laksana semangkuk kolak ini, halal tanpa percuma..

Untuk @GustiFullah dalam tulisan #DuetPuisi

*Tulisan ngebet nikah =))

3 thoughts on “Harapan diam-diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s