Nulis Puisi

Kumpulan #DuetPuisi bertema kolak – Aulia Fasya dan Gusti Fullah

Semangkuk Kolak Penuh Rindu by Gusti Fullah

Kekasih yang namanya sering aku lafalkan dalam doa.
Tahukah kamu, bahwa merinduimu layaknya meracik sebuah kolak.

1.
Pertama-tama kasih, aku harus memotong-motong batang rindu ini menjadi beberapa bagian agar hatimu mudah mencerna. Dan seandainya kamu tau, secara utuh batang-batang rindu ini terlalu besar untuk ditampung dunia yang hanya sebatas langit bumi.

2.
Beberapa gula-gula kecurigaan kurebus dengan pikiran jernih sampai mendidih. Sampai pipi merona merah menahan malu, menyadari bahwa ketidakpercayaan adalah fatamorgana dari pikiran kotor agar hubungan ini tak selamanya menyatu.

3.
Tak hanya itu kekasih, satu per satu aku masukan berlembar-lembar daun kesetiaan dan secangkir kepercayaan utuh di dalamnya. Lalu diaduk perlahan-lahan searah jarum jam. Karena setahuku waktu akan mengantarkan kita pada jawaban yang sering kita pertanyakan tentang masa depan.

4.
Setelah dirasa semua pikiran baik itu tercampur apik secara menyeluruh, aku tambahkan harapan secukupnya. Tidak dengan komposisi berlebihan, karena segala sesuatu yang keterlaluan amatlah tidak baik buat kita manusia ini, kasih.

5.
Tidak lupa pula aku tambahkan santan ketabahan yang diambil dari sari-sari pelajaran masa lalu, berasal dari perempuan sebelum kamu yang melukai hatiku dengan parutan-parutan kemunafikannya.

6.
Semuanya dimasak hingga matang dalam satu wadah berwujud aku. Lelaki yang setiap waktunya dedikasikan untuk merindui perempuan semengaggumkan kamu.

7.
Kini rinduku siap kamu cicipi. Semuanya tentangmu di diriku selalu hangat untuk kamu hadapi. Percayalah, mungkin diriku persis semangkuk kolak penuh rindu yang selalu kamu tunggu dalam bedug maghrib di puasa tatap temu.

Harapan Diam-Diam by Aulia Fasya

Semangkuk kolak yang masuk ke dalam tubuh ini. Menunggu menyeluruh hingga manisnya masuk ke dalam hati. Air nya bergejolak menyebutkan harapan yang hangat tak terkendali.

Semangkuk kolak yang kita nikmati dikala senja. Bersama ibu, kita diam-diam berbicara mengenai rasa yang sedang menyatu. Bersama ayah, kita memasang wajah sendu seakan tak berdaya.

Raja penggoda rasa di hatiku.

Sudahkah Tuhan menyampaikan ingin ku, di kala kamu tertidur? Aku menitipkan nya pada sujud semalam yang dipeluk dingin.

Seperti gugup, aku masih ingin tuk mencicipi hangat nya semangkuk kolak penuh rindu. Membawa tenang nya setiap belaian mu. Juga senyum yang selalu terpancarkan darimu. Melelehkan setiap kebekuan yang sedang ku rasa.

Ibu dan Ayah menaruh semangkuk kolak. Meninggalkan sebuah percakapan dengan tatapan tajam, seolah mata nya terbangun dari langit yang terpejam.

Kini ada banyak pertanyaan yang melintas di sesat nya bayangan. Mengganggu tanpa berharap yang tak pasti.

Pada mu, raja yang tau isi hati

Harapan ku laksana semangkuk kolak ini. Berharap ucapan halal mengayomi setiap kunyahan yang menjelma. Mengarungi setiap manisnya kehidupan di masa yang halal untuk yang pertama. Menjelajahi kehidupan kita berdua yang diyakini untuk dinikmati bersama. Laksana semangkuk kolak ini, halal tanpa percuma..

Langkah-Langkah Harapan dan Kamu Yang Menjadi Titik by Gusti Fullah

Fasyaulia, yang susunan kata-katanya mampu merobohkan hati.

Bait-bait doa yang kamu kirim untukku telah sampai dalam lelapku. Betapa beruntungnya aku bisa menemukan perempuan semenakjubkan kamu.

Keinginanmu teramat mulia, Sya!
Setiap inchi kulitku merinding mendengar harapanmu. Satu per satu pori-poriku terbuka lebar seakan tak percaya bagaimana jadinya jika seluruh kulit di tubuhku ini menjadi halal untuk kau peluk.
Semalaman tubuhku gemetaran, seperti permukaan kolak yang mangkuknya disentil, hatiku bergelombang tak karuan.

Fasyaulia, ratu dari segala kata-kataku.

Dalam kehidupan, terutama cinta, selalu ada pertanyaan yang muncul satu-satu dengan jawabannya beribu-ribu.
Tapi Sya, sungguh dengan segala kejujuran yang aku punya, kehadiranmu di hidupku telah menghadirkan ribuan jawaban bahkan dari pertanyaan yang belum sempat aku ajukan.

Kamu adalah palu penghancur
Dari semua tanda tanya besar
Yang ada di hidupku
Sekarang, bahkan di hari esok yang kelabu

Dalam tiap kunyahan, dalam tiap helaan, dan di tiap tegukan pada sesendok kuah kolak racikan dari tangan calon ibu anak-anakku, yaitu kamu, ada manis harapan tentang kamu di masa depanku.

Kalau memang tuhan telah menjadikan nama kita sebagai pasangan di hari esok, semoga cerita ini menjadi panutan buat generasi setelah kita, bahwa ada dua manusia mampu menghadirkan cerita nan begitu elok. Kita!

Ya, kamulah tanda titik dari akhir cerita pencarian pasangan hidup.

Kenangan by Aulia Fasya

Sudah tak ada lagi keresahan. Mendung pun menghilang serupa bayangan. Menghadirkan kamu, yang sosok nya akan selalu ku inginkan setiap saat. Sama seperti bulan ini, ramadhan.

Menghabiskan waktu di kala sore adalah kesempatan kita untuk menyelami arti rasa. Kita berdua duduk mengungkapkan makna hati, kemudian mengingat masa-masa indah yang terlewati. Dimana, kita menunggu hari kebahagiaan.

Ingatkah kamu, semangkuk kolak yang berisi rindu. Penuh sekali hingga aku ingin cepat menghabiskan nya. Seperti haus yang terus menerus.

Ingatkah kamu, manis nya kolak yang telah ku buat. Rasanya tak pernah semanis jika kita duduk bersama untuk menikmatinya. Bahkan, kolak buatan ibu mu pun akan terlewat.

Ingatkah kamu, ketika ibu dan bapa menatap kita setelah berbuka puasa. Menanti jawaban pasti dari bibir mu yang mengunyah setiap suapan tak tersisa.

Satu demi satu ingatan ku selalu mengayun pada mu. Hingga akhirnya, hati ini berlabuh untuk yang terakhir. Maka, setiap bertemu ramadhan.. kolak adalah kenangan, dan aku semakin mahir ; dalam membuat kolak, dan mencinta mu tiada akhir.

Juli 2013
Ramadhan 1434

6 thoughts on “Kumpulan #DuetPuisi bertema kolak – Aulia Fasya dan Gusti Fullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s