30 Day Blog Challenge

#1 What, why, and where I write

WHAT

Apa yang sebenarnya saya tulis di blog ini? Tidak ada batasan yang pasti mengenai apa yang harus saya tulis. Maka dari itu saya menulis caption : write and share. Apapun yang ada di otak saya, saya tulis dan bagikan kepada siapapun pembaca nya. Terlepas tulisan nya akan disukai atau tidak, dibaca sepenuhnya atau hanya judulnya, ya terserah. Bagi saya, yang penting saya sudah menulis dan semuanya terasa lega jika tulisan tersebut sudah selesai.

Dalam blog ini, saya memasukan empat kategori yaitu puisi, kuliner, musik, dan blogs. Ada tambahan satu kategori lagi yang baru yaitu 30 day blog challenge ini, jadi kategori nya ada lima. Untuk puisi, kuliner, dan musik, sengaja saya bikin kategori nya karena saya penyuka ketiga nya. Jadi supaya tulisan nya ga amburadul, saya kelompokkan ke tempatnya masing-masing. Untuk blogs, isi nya campur-aduk-asam-manis-curhat-dan-segalanya. Hal apapun yang tiba-tiba saya pengen share, maka saya masukan ke kategori tersebut. Banyak nya sih unek-unek dan cerita-curhat-dadakan.

WHY

Kenapa saya menulis blog? Jadi gini asal mulanya.. jeng jeng! Dulu, pacar saya penulis blog juga, dia cukup aktif di dunia blog-blogan. Dia ngajakin saya untuk bikin blog dan masukin puisi-puisi saya. Jelas saya ogah lah, pertama karena saya malu untuk menuliskan puisi saya. Kedua, saya ga ngerti ngotak-ngatik blog. Setelah putus hubungan sama dia, setahun kemudian di awal tahun 2012 saya beli buku Madre – Dewi Lestari. Disana ga menceritakan tentang blog sih, yang ada juga menceritakan tentang biang roti dan cinta. Tapi gini, si Tansen sang pemilik warisan madre ini punya blog. Bagi dia kegiatan menulis blog adalah terapi. Dia seminggu sekali berusaha untuk selalu menulis blog. Ini ada tulisan di buku Madre, yang mau saya share disini.

Belum pernah aku setia melakukan satu hal dalam jangka waktu sepanjang itu (dua tahun). Jika serabutan adalah penyakit, maka blog ini adalah obatku.

Sebagai penyempurna terapiku, blog ini punya sekelompok pembaca setia yang rutin berkunjung dan berkomentar. Orang-orang yang sebagian besar tidak kukenal langsung. Orang-orang yang kukenali hanya lewat tulisan serta kotak kecil berisi foto profil dan biodata seadanya. Namun mereka menjadi saksi hidupku selama dua tahun terakhir.

Setelah selesai baca buku Madre, akhirnya saya berpikir ulang untuk punya blog. Saya pengen juga kalau blog jadi obat saya setelah saya cape aktivitas, entah itu kuliah – tugas – kerjaan – rapat organisasi – dan sebagainya. Akhirnya saya cari-cari tahu tentang pilihan untuk membuat blog apa saja, ada banyak banget ternyata. Dari sekian banyak pilihan, saya akhirnya memilih wordpress. Alhamdulillah saya masih aktif di blog ini dari Maret 2012, postingan nya pun tidak berubah dalam sebulan. Hanya berbeda sedikit saja jumlah nya. Artinya, saya stay selama setahun ngeblog seperti ini. Tulisan dari yang ga penting pun kayanya udah pernah saya posting. Jadi kenapa saya menulis blog adalah, karena saya butuh. Butuh menulis, butuh ruang, butuh menumpahkan ide-ide yang bermunculan entah kapan datangnya. Terimakasih juga untuk Dewi Lestari atas buku Madre nya yang menginspirasi.

WHERE

Dimana biasanya saya menulis blog? Jawaban nya ada dua yaitu di kamar dan di tempat makan atau cafe. 80% isi blog ini saya tulis di rumah, di kamar lebih tepat nya. Dirumah wifi nya cepet dan suasana nya tenang, jadi nulis pun ga keganggu. Pernah sesekali cari cafe yang ada wifi nya, pergi sendiri tentu nya. Masa iya mau nulis ngajak temen-temen, itu mau nulis atau mau arisan -__-

Pernah juga sesekali nulis blog lewat handphone, gara-gara wifi rumah mati jadi gabisa nulis blog. Akhirnya nulis dari aplikasi wordpress di hp. Walaupun aplikasi nya udah cukup bagus, simple, dan lengkap. Saya tetap lebih suka nulis blog lewat pc, lebih nyaman untuk jari dan mata.

Kamar lah yang bener-bener menjadi saksi ketika saya menulis blog. Pernah saya menulis blog ketika saya senang dan sedih, ketika saya butuh menangis atau ketika saya memang sedang menangis. Kamar ini, tempat kenyamanan yang selalu dirindukan. Ada kalanya saya menulis di sebuah pagi dengan jendela terbuka yang angin nya masuk tanpa permisi, di sebuah siang dengan matahari yang cahaya nya menelusuri debu-debu, di sebuah sore dimana senja begitu diagungkan setiap pemerhatinya, di sebuah malam yang tenang nya diselami oleh pelukan hangat. Kamar ini nafas nya.

#1 What, why, where I write – selesai.

Walaupun tulisan di blog saya kurang enak dan kurang asik untuk dibaca, tapi terimakasih banyak untuk waktu kalian. Untuk jari-jari yang sudah bersedia memfollow, untuk mata-mata yang bersedia memandang, untuk ucapan-ucapan yang disampaikan lewat kata, dibaris komentar atau linimasa. Thankyou kalian semua!

3 thoughts on “#1 What, why, and where I write

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s