30 Day Blog Challenge

#6 Job

If you could have any job in the world. What would it be?

Bulan depan, saya udah masuk semester 7. Itu artinya saya bakalan dapat sebutan baru, Aulia Fasya si mahasiswa tingkat akhir. Saya juga harus udah nyiapin setelah lulus mau jadi apa dan mau ngapain. Lanjut s2 kah, nikah kah, kerja kah, nganggur kah atau apa kah? Kalau kerja, kerja apakah – dimanakah?

Untuk challenge ke 6 ini, saya akan membahas pekerjaan. Lebih tepatnya, keinginan kerjaan saya di masa yang akan datang (berasa masih lama). Saya bingung untuk ngejelasin nya dimulai darimana, yang jelas ialah saya tidak ingin melamar pekerjaan. Siapapun yang baca ini mungkin akan berpikiran bahwa saya adalah orang yang gengsi. Gak masalah, saya terima dengan baik sebutan itu. Kenapa saya tidak ingin melamar pekerjaan? Begini, saya disekolahkan oleh orangtua saya dari TK – SD – SMP – SMA – hingga saat ini kuliah. Lalu jika lulus,Β  saya harus melamar pekerjaan? Kemudian gaji yang diterima pun pas-pasan. Saya tidak membayangkan berapa ratus juta yang sudah dikeluarkan untuk itu semua, untuk biaya pertahun, belum lagi dengan tambahan les, uang saku, beli buku, dan masih banyak lagi. Kemudian setelah lulus, maka akan memegang ijazah dan beberapa sertifikat untuk mendapat pekerjaan yang diinginkan. Jika tidak mendapatkan pekerjaan apa yang diinginkan maka bekerja apa saja dengan gaji yang secukupnya.

Saya tidak ingin seperti itu.

Apa pekerjaan yang saya inginkan ketika saya SMA?

Saya ingin bekerja di sebuah stasiun TV (Trans TV) sebagai tim kreatif. Ketika itu saya rasa pikir kayanya menyenangkan bekerja disana. Dalam sebuah tim, dimana semuanya akan saling mendukung untuk bekerja. Belum lagi, seragam warna hitam yang mereka gunakan terlihat cocok. Kesan nya adalah kuat. Tim yang kuat. Ya inti nya waktu SMA, itu keinginan saya. Pokoknya kerja disana terlihat keren. Tapi kemudian pikiran ingin kerja di stasiun TV gugur sudah, menghilang entah kemana. Belum lagi kalau saya harus ada di kota Jakarta, oh tidaaak! Saya gak pernah mau kerja atau tinggal disana.

Lalu kenapa masuk psikologi?

Ini dia.. banyak yang bingung kenapa saya tiba-tiba ada di jurusan psikologi. Padahal waktu itu yang ada di otak saya tentang kuliah hanya dua, masuk fakultas ilmu komunikasi atau ekonomi. Apalagi Bapak saya bekerja di bank, kakak saya juga kuliah di ekonomi. Jadi yang ada di otak saya, yaaa palingan saya ujung-ujungnya kerja di bank juga. Tapi ternyata di penghujung sisa-sisa akhir di kelas 3 SMA, saya mencoba flashback tentang apa yang sudah dilewati selama ini. Saya sempat melupakan keinginan saya masuk psikologi. Ya, saya pernah mempunyai keinginan masuk psikologi namun tidak pernah saya sampaikan kepada siapapun. Apa alasan ingin masuk psikologi? Pertama, karena pengalaman masa lalu yang buruk.

Ya, ketika SMP saya punya pengalaman yang buruk dengan guru bimbingan konseling (BK), maaf saya tidak ingin menyebut nya dengan beliau, sebut saja mereka. Mereka ini adalah orang yang katanya guru bimbingan konseling. Catat ya, harusnya mereka ini membimbing dan memberikan konsultasi kepada siswa nya, siapapun itu siswa nya, baik atau buruk sifatnya, rendah atau tinggi kasta nya, miskin atau kaya di sekolahnya. Catat! Namun yang saya rasakan tidak demikian. Mereka menghakimi ketika siswa nya melakukan kesalahan, mereka juga membocorkan kesalahan-kesalahan siswa kepada oranglain (siswa ataupun guru). Saya ingat apa yang mereka katakan ketika pertama kali masuk ke kelas, waktu itu saya kelas 7 – masih jadi siswa baru. Inti nya mereka bilang : “di SD kalian tidak mendapatkan guru BK, tapi di SMP kalian mendapatkan guru BK. Jika ada yang ingin diceritakan kepada guru BK, bisa datang di ruangan kami. Masalah apapun. Gausah malu dan blablablablaaaa. Fungsi nya bimbingan dan konseling adalah blablablablaaaaa”. Tapi apa yang mereka omongkan tidak demikian. Saya pikir hanya satu guru BK, ternyata satu-dua-tiga-empat, ah mungkin semua guru BK.

Maka, saya ingin masuk psikologi karena saya ingin menjadi guru BK. Bukan balas dendam. Namun sebaliknya. Saya ingin memberikan konseling yang sebaik-baiknya semampu saya. Dimana saya merasakan bahwa ketika SMP atau SMA, tidak semua teman bisa dipercaya. Bercerita ke orangtua pun mungkin merasa malu. Maka disitulah fungsi nya guru BK. Walaupun saya harus mengurusi hal-hal jajaran anak “bandel”, saya mau mengurusi nya sesuai dengan tujuan guru bimbingan dan konseling itu dibentuk. Bukan menghakimi, tapi harus mengerti. Buat anak-anak yang melakukan kesalahan itu sadar akan kesalahan nya, bukan nya dimarahi kemudian si anak akan melakukan kesalahan yang sama. Itu kan yang rata-rata terjadi?

Selain pengalaman masa lalu yang buruk, saya juga tidak berani masuk psikologi. Yang saya tahu, biaya nya mahal dan seperti nya otak saya tidak akan mampu masuk jurusan itu. Tapi ternyata, saya masuk, bertahan sampai sekarang hehehe.

Jadi pekerjaan apa yang diinginkan? Ga mungkin dong kalau ga kerja?

Saya ingin membagi pekerjaan dan pengabdian.

Saya ingin mengabdi di sebuah sekolah inklusi atau sekolah luar biasa, atau di sebuah rumah sakit jiwa atau apapun yang diperkirakan saya bisa mengabdi apa yang sudah selama ini saya dapatkan ilmu-ilmu nya. Istilah nya, tidak apa saya dibayar kecil yang penting ada kepuasan tersendiri karena saya membantu orang.

Untuk pekerjaan, saya ingin berwirausaha. Bidang nya antara fashion atau kuliner. Fashion tidak melulu dengan baju, kuliner tidak melulu dengan restoran. Ya pokoknya saya ingin berwirausaha. Kenapa saya ingin berwirausaha? Karena saya ingin mengatur dan bekerja sama. Bukan diatur dan dipaksa bekerja sama. Saya belajar dari Bapak saya, beliau punya bisnis jamur di Lembang. Beliau pernah bilang yang inti nya, usaha ini memang gak terlalu maju, keuntungan nya gak terlalu banyak, (bahkan saya dengar tidak mendapatkan untung) tapi gapapa, minimal Bapak bisa memberi pekerjaan buat orang-orang diluar sana, memberi makan satu atau dua keluarga di luar sana, membantu menyekolahkan anak-anaknya dari rezeki itu. Yes! Saya menangkap jelas bahwa uang bukan satu-satu nya pilihan Bapak untuk bisnis.

Alasan kedua adalah saya ingin punya waktu lebih banyak dengan keluarga. Apapun yang terjadi nanti di masa yang akan datang, saya akan tetap menjadi wanita dapur, melayani suami, menghabiskan waktu dengan anak, belanja ke pasar dan supermarket,Β  yaa typical menjadi ibu rumah tangga. Saya tidak akan pernah mengelak takdir itu. Ibu rumah tangga adalah pekerjaan masa depan yang sudah pasti akan saya rasakan nikmatnya.

Anyway, di hati kecil ini, saya juga ingin menjadi penulis. Menuliskan kumpulan sajak-sajak saya. Kelak nanti blog saya tidak terurus, minimal saya mengenang nya dalam sebuah buku. Walaupun saya tahu, buku-buku sajak mungkin sedikit peminat nya. Tidak apa, saya tidak menjadikan buku sebagai ladang mencari uang. Jika ada pemasukan, silahkan.. jika tidak, no problem. Saya menulis karena saya butuh menulis. Sampai kapanpun.

Ya, saya tau tulisan ini terlalu mengada-ngada atau terlalu bermimpi. Anggap saja keinginan saya adalah pengusaha, penulis, dan mengabdi dalam bidang sosial. Tapi semoga Tuhan mencatat keinginan saya ini dan mewujudkan nya satu persatu. Tidak ada yang tidak mungkin, bukan? hehehe.

Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apa pekerjaan yang diinginkan?

Challenge ke #6 – selesai.

6 thoughts on “#6 Job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s