30 Day Blog Challenge

#14 Problem

Setiap manusia pasti mempunyai masalah. Ada yang diselesaikan sampai tuntas, ada juga yang menghindar dari masalah tersebut, ada yang masih mencari-cari cara untuk memecahkan permasalahannya, dan masih banyak kemungkinan yang lainnya. Untuk tulisan kali ini tema nya masalah, yang sedang dialami atau juga yang pernah dialami dimasa lalu. Kalau saya menuliskan masalah ini dan kesan nya jadi kayak curhat pribadi, mohon dimaafkan. (tapi ya pasti terkesan curhat sih -__-)

Saya pernah dekat dengan seorang cowok, umur nya 5 tahun di atas saya. Ya, saya rasa sangat pas ketika tahu dia punya usia diatas saya. Dia punya kerjaan dua, di salah satu bank dan di tempat travel. Singkat cerita dari dulu awal kenal dan sebagainya, tiba-tiba dalam beberapa bulan kita deket. Dia cukup sering menghubungi saya, menjemput saya kalau saya pulang malam, meminjamkan jaket nya yang wangi kalau kita pulang malam, mengajak saya makan siang, ngobrol ini itu ini itu di chat messenger yang gak pernah ada habisnya, dia juga beberapa kali kerumah.

Saat itu, saya tidak merasa risih ketika dia terlihat mendekati saya. Alasan nya, di umur dia yang segitu, sekitar 25-26 tahun, cara mendekati nya cukup membuat saya nyaman. Ya you know, bukan pendekatan ala-ala remaja dengan gombalan maut, bukan pendekatan yang terus menerus harus komunikasi dari pagi-siang-sore-malam-subuh. Tapi pendekatan yang santai dan nyaman untuk dijalani. Dari segi sikap dan sifat saya rasa saya udah cukup sreg, segi agama juga, segi sosial juga, keluarga nya pun dari keluarga baik-baik, ditambah dia tidak merokok, saat itu hati saya terasa bener-bener “welcome” untuk dia. Saya cukup selektif untuk memilih pasangan karena kalau gak diniatin serius, saya pikir seperti “buang waktu”.

Semua berjalan seperti biasa, sampai suatu waktu entah mengapa, dia menjauh dan saya juga ikutan menjauh. Kenapa saya turut menjauh? Saya adalah orang yang gengsian. Sampai detik ini pun saya tidak berani membuka mulut saya untuk menanyakan, “kenapa kita jadi begini?” atau “kenapa kamu menjauh?” atau misalnya “saya punya salah apa sampai kita ga kontak-kontakan?” entahlah saya terlalu gengsi untuk menanyakan nya. Toh dia pun tidak menghubungi saya juga, lalu kenapa saya harus menghubungi nya?

Kalau kata orang, saya korban PHP (pemberi harapan palsu), saya tidak merasakan itu. Kalau kata orang, saya terlalu geer karena merasa didekati, saya tidak bodoh ketika ada orang yang tujuan nya pedekate atau sekedar teman, saya tau perlakuan nya seperti apa. Kalau kata orang, saya orang nya gengsian sampai-sampai gamau ngabarin duluan, ya memang gengsian tapi saya tetap suka menghubungi dia, ketika memang dia juga sebelumnya menghubungi saya, dan besok-besok nya kita akan saling menghubungi satu sama lain secara bergantian. Tapi ini, dia yang menghilang mendadak tanpa memberi suatu kabar ke saya.

Lalu ini adalah masalah?

Ya, bagi saya ini adalah masalah yang tidak terselesaikan. Semua nya masih menggantung dan saya tidak mengerti tentang semua ini. Terlebih, saya adalah pihak perempuan, pihak yang didekati bukan mendekati. Dia yang memulai, dia yang menyelesaikan akan seperti apa. Tapi sampai detik ini, saya percaya dia bukan lelaki “gak bener”, jadi saya tidak punya pikiran macam-macam yang buruk tentang dia.

Saya harap, siapapun kalian yang baca gak berpikiran yang aneh-aneh terhadap saya atau dia. Ya beginilah hidup, gak semua nya sesuai rencana kita, dan gak semua nya terselesaikan sesuai dengan kehendak kita. Dalam hal keluarga, dalam hal kuliah, dalam hal pertemanan, dalam hal kerjaan, dalam hal apapun. Siap gak siap, kita harus siap. Mau gak mau, kita harus mau. Suka gak suka, kita harus suka. Kunci utama nya ya selalu bersyukur suka ataupun duka.

Saya merasa jatuh cinta dengan orang yang tepat. Sampai akhirnya saya tahu bahwa waktu menenggelamkan perasaan ini hingga larut tak bergeming. Rindu bukan lagi menyesak. Tapi ada bayangan yang melekat. Seolah-olah saya tak sadar bahwa ini sudah terhenti. Saya merasa dekat.

Setiap tidur saya di kala malam. Saya tidak pernah tahu mengapa akhirnya seperti ini. Berjalan sendiri-sendiri tanpa ada kepahaman antara hati. Pernah berpikir bahwa saya mungkin pernah melakukan kesalahan. Atau mungkin, bukan saya lah orang yang di harapkannya. Saya mengingatnya. Berdoa untuk sesuatu yang baik antara kami. Entah itu kebersamaan atau perpisahan. Bulan-bulan yang fana.

Jadiiii, kalian lagi punya masalah apa? Masalah yang sekarang di alami atau masalah yang pernah dilewati? Atau memang lagi gak ada masalah? Enjoy!

Challenge #14 – A problem you have or have had in the past – selesai.

3 thoughts on “#14 Problem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s