Nulis Puisi

Menjadi candu

Membaca puisi mu laksana teduh yang mengikat

Aku menginginkan untuk membaca nya setiap pagi dan mengulang nya di kala malam
Setiap kata yang terucap laksana hati yang bergema bahagia

Aku diculik ke masa depan untuk merangkai nya pada jalan yang berpagar disisinya
Kini, sudah tersimpan pada rintik hujan yang mengayun
Bungkusan kata, dimana aku
Tak akan pernah mengizinkan mereka pergi walau satu tarikan nafas
Pun, pada bisikan dari mu yang mengganggu setiap perjalanan

Menghantuiku, meraba setiap isi hati, menenggalamkan ku pada samudera kata

Menuliskan semua tentang mu laksana mata yang tak berkedip
Pikiran berangan
Menjatuhkan pandangan seperti mercusuar yang mengarah tak menepi
Adalah kamu,
Pujangga yang bait nya kurindukan hingga kalbu ini bergejolak
Mendatangkan segala asa hingga penuh cemas
Aku menjemput mu di kala suntuk yang menjelma
Menerangkan sebuah lukisan hujan yang menjadi embun
Di dalamnya, temukan rumah berdinding kata, berpintu cinta, dan kita ada dalam peluk suka cita

Sedangkan,
Mengeja nama mu laksana bunga tidur yang terlama dalam ingatan ku
Selalu ingin terulang dengan tetap kamu disini, tanpa pulang

3 thoughts on “Menjadi candu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s