Nulis Puisi

Prahara Kota

Mengadu pada malam. Bahwasanya siang terlalu rumit untuk dimengerti. Sedangkan pagi awal kericuhan terjadi.

Matahari mulai muncul, maka mata-mata akan bangun pada jiwanya masing-masing. Setiap pagi keterbukaan akan dimulai. Sekolah membuka gerbang dan kunci-kunci kelas, juga jendela yang berdebu. Usang. Sesekali tersentuh oleh beberapa murid yang menyandar pada tembok tua. Kantor membuka diri dengan membersihkan halaman parkir untuk tempat kendaraan yang bertender berjam-jam. Dilanjut mengelap kaca serta meja, semua mengkilap dalam sekejap. Wewangian kopi dan teh melingkari setiap ruangan. Tapi wanginya parfum pria dan wanita dewasa pasti akan mengalahkan segalanya. Tikus di balik tembok pun bisa terbangun rupanya. Ada pula pasar pagi, disana sudah menunaikan tugasnya, karena sejak subuh pasar disambut oleh pemberi borongan setiap hari. Tawar menawar pun di soroti oleh lampu remang-remang dan berpeluk mantel. Jalanan becek sudah menjadi ciri khas, bukan apa-apa, paham kecuekan juga terjadi sejak lama. Seolah-olah bukan tanggung jawabku, bukan tanggung jawabmu, bukan tanggungan kita, lalu angin menjawab dengan hawa yang sesak di hidung. Tanda-tanda, bukan?

Dari semua keterbukaan, ada suguhan pagi yang menjadi sebuah standar kota besar. Hiruk pikuk kekejaman hadir menjelma setiap hari. Seperti kemacetan yang menyisakan kesabaran atau kekasaran. Hanya dua itu saja yang akan dominan pada sebuah kemacetan jalanan. Sisanya mendengar lagu, sarapan dijalan, bahkan membaca untuk kuis serta ulangan. Pagi kita di suguhi tidak ketenangan.

Semakin matahari meninggi, perut memanja meminta diisi dengan segera. Mencari asupan juga kenyamanan. Ada yang menikmati dengan lauk-pauk sederhana. Hanya ditemani bilik-bilik bambu diberi pewarna. Ada yang menikmati dalam sajian istimewa ditemani ruang ac dan sofa. Apa sajalah, yang penting keresahan pagi sudah larut seketika. Mengisi waktu tak menentu di dalam kota kita. Aku dan kamu yang tak tahu keadaan tak selalu nestapa.

Prahara hadir. Pada orang-orang besar, juga orang-orang kecil. Pada kerumunan beranak sungai, juga kerumunan lampu berai. Tak pasti dalam emmilih, semua terdapat jalannya sendiri, begitulah keadilan sang Kahlik pada hidup.

Di balik carut-marut hidup, percaya lah siapa manusia yang tak suka karya Tuhan di angkasa, tentang langit dan awan yang menyatu dalam bentukan yang selalu berubah, berbeda setiap waktu, bahkan tak henti untuk dijadikan bahan potret semata. Sama hal nya dengan sore senja, warnanya antara merah atau jingga, setiap harinya akan selalu begitu. Tapi tetap saja menakjubkan dan menumbuhkan rindu yang mendalam. Sebagian orang saja bisa melupakan sejenak prahara pada ketenangan sore. Obrolan ringan dan minuman hangat bisa menjadi sahabat paling setia bersama kedipan senja yang memanja. Aku dan kamu salah satu pelaksananya.

Dirangsang oleh sambutan malam. Kota ini menjadi tempat peraduan paling efektif. Pada orang tua di meja makan bersama, pada kekasih di suara ponsel berlama-lama, pada bapak wali kota di media sosial menjadi mata-mata, juga pada pemilik bulan sabit yang memberi setiap prahara dengan cinta yang tak pernah habis untuk dipertanyakan oleh kita.

Setelah malam memeluk diri di belahan kota lain, hadir kembali cicit burung dan kokok ayam yang mengulang keterbukaan. Seperti itu, selalu, terkecuali libur lebaran, mungkin.

Rindu yang kau sebut tenggelam bersama hari-hari di sebuah kota. Menunggu dijemput di tempat yang aman agar tak lari dari buangan. Diam saja, kelak jejaknya terlihat walau perlahan.

Nulis bareng Didik Rahmadi. Menulis dengan tema yang sama. Tulisannya bisa dibaca disini.

13 thoughts on “Prahara Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s