Nulis Puisi

Hujan yang berdiam diri

Malam pun berbicara tentang bau matahari. Malam ikut merindukan hawa dingin yang merajai. Tidak seperti ini. Hanya keluhan dan sorotan tajam dari mu, dari cahaya juga udara yang menari-nari bahagia sekali.

Tanah-tanah depan rumah selalu disiram Ibu. Jika siang terlihat sekali berdebu. Dari aspal jalanan, mungkin begitu. Kemarau ini panjang sekali rasanya. Hujan masih saja berdiam diri tak menampakan keributan nya. Masih tertidur. Kasihan Ibu juga para pembantu. Belum lagi petani, ya?

Mungkin kota ini sedang di gandrungi proyek perbaikan jalan, jadi matahari lebih banyak menemui aspal panas. Jika hujan, aspal berantakan. Aku harap, malam-malam di akhir tahun berubah bersama bau-bau hujan. Salah, tentu nya bau tanah terkena hujan. Itu adalah kenikmatan.

Hujan masih berdiam diri. Menunggu awan hitam, petir, juga pelangi. Bersama penciptanya, mungkin sedang rapat kordinasi.

Aku masih menunggu hujan, kamu?

10 thoughts on “Hujan yang berdiam diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s