Dan Lain Lain

Perayaan tahun baru

Setiap tahun, perayaan tahun baru selalu meriah. Langit-langit dicerahkan dengan kembang api. Makanan siap sedia. Hingar bingar musik juga menemani malam sampai pagi. Mungkin hampir semua orang merayakannya, di hari sebelum-sebelum nya berburu mencari orang untuk diajak merayakan tahun baru. Ada yang merayakan dengan teman-teman, pacar, keluarga, ataupun rombongan teman-pacar-keluarga.

Pernah kah kamu menanyakan alasan orang merayakan tahun baru? Apa jawaban mereka?

Jawaban terstandar adalah karena yaaa setahun sekali.

Atau, jawaban kedua yang disimpan dalam hati adalah karena ikut-ikutan kebanyakan orang.

Sayangnya jawaban kedua itu, tidak banyak orang yang mau mengungkapkannya. Terlalu menjaga image dari hal-hal yang menjatuhkan diri mereka.

Saya adalah orang yang tidak merayakan tahun baru. Setiap tahun nya saya habiskan dengan tidur seperti hari-hari biasa. Nothing special. Orang tua saya tidak membiasakan diri untuk merayakan tahun baru. Seperti itulah, sehingga saya pun tidak akan pernah mendapatkan izin merayakan tahun baru seperti kebanyakan teman-teman saya. Bertahun-tahun saya nikmati tahun baru dengan telfonan bareng pacar atau telfonan bareng pedekatean. Tapi semua itu juga tidak spesial, karena setiap hari nya pun selalu telfonan. Jadi ya.. tahun baru sama saja seperti hari-hari sebelumnya.

Awal-awal kuliah di tahun 2010, waktu itu masih semester 1. Saya diajak teman-teman kuliah untuk ikut merayakan tahun baru di rumah salah seorang teman. Sekalian membantu teman saya yang akan menembak gebetan nya di malam itu. Pertama kali dalam sejarah kehidupan saya, saya ikut untuk merayakan tahun baru. Izin ke orangtua jelas gak dibolehin, dijelasin serinci mungkin bakal ngapain aja disana dan ditambah alasan “plis.. kan udah kuliah masa gak dibolehin” daaan sampai akhir nya dibolehin dengan syarat pagi-pagi udah pulang kerumah. Akhirnya setuju. Dirumah teman saya, udah ditebak sih bakalan ngapain aja. Masak-masak, ngobrol ngalor ngidul, nyiapin penembakan (lilin, bunga, spanduk, segala macem kaya FTV), nyiapin kembang api juga, ditambah masang musik-musik. Oke pada akhirnya saya merayakan tahun baru 2011 disana. Jam 03.00 subuh, saya dan teman-teman tidur macam anak-anak terlantar di rumah teman, udah gak ngeh dapat bantal atau enggak pokoknya tidur. Pagi-pagi nya pada bangun suka-suka, ada yang jam 07.00, ada yang jam 09.00. Semuanya ngubek-ngubek makanan karena pada kelaparan. Sedangkan saya memutuskan untuk pulang karena orang tua saya sudah nelfon dan sms. Jam 11.00 saya sampai dirumah, gak terlalu dimarahin sih cuma sedikit ditegur kenapa pulangnya siang bukan nya pagi.

Tahun-tahun berikutnya saya gak pernah lagi merayakan tahun baru, sama seperti sebelumnya. Bagi saya merayakan tahun baru 2011 kemarin : seru tapi tidak bermakna. Seru karena saya bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman, seperti biasa ada canda atau tawa. Tidak bermakna karena memang tidak merasakan arti yang sepenuhnya dari tahun baru selain perpindahan tahun.

Sedangkan untuk tahun baru 2014 masih sama, saya lakukan dengan tidur. Berhubung lagi sakit, jam 10.00 saya udah tidur tapi kebangun terus karena suara kembang api yang meledak-ledak, akhirnya saya tidur pulas benar-benar jam 01.00.

Alasan saya gak suka merayakan tahun baru, karena memang tidak penting. Terlepas dari segi agama atau segi apapun, tapi memang saya pribadi tidak menyukai nya. Lihat acara-acara di TV aja pusing, apalagi saya ikutan merayakan. Gak sanggup kayanya. Saya merasa beruntung di didik orang tua untuk tidak biasa merayakan tahun baru. Jadi, kalaupun gak tahun baruan, ya no problem.

Setelah merayakan tahun baru, orang-orang berlomba membuat resolusi untuk tahun yang baru. Resolusi yang kebanyakan diingat ketika awal tahun, sisanya jelas sudah terlupakan. Ketika menuju tahun baru, lagi-lagi membuat resolusi baru. Sedangkan resolusi yang tahun sebelumnya dianggap tidak tercapai. Padahal memang tidak ingin dicapai, mungkin. Resolusi yang dibuat hanya sebatas angan-angan.

Saya sendiri membuat resolusi, tapi gak banyak sih dan cuma saya serta Tuhan yang tahu. Tapi ada yang lebih penting selain resolusi, tapi introspeksi. Belajar evaluasi, belajar menilai, jangan hanya berharap tapi gak bertindak. Selain diri kita, siapa lagi yang mau memperbaiki diri kita. Gak ada. Sehebat apapun orang yang menjadikan kita berubah, mereka adalah inspirasi. Semua keputusan dan tindakan tetap ada di tangan kita sendiri.

Well, segitu aja sih sharing nya. Selamat tahun baru ya teman-temanπŸ™‚

“Malam tahun baruan nggak kemana-mana bukan berarti loser. Setahun nggak ngapa-ngapain, nah itu baru loser” – Joko Anwar

There’s nothing special bout new year. Still day by day, cause do better not about year but every day every hours every minutes every time” – Adinda Ikramina

 

6 thoughts on “Perayaan tahun baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s