Nulis Puisi

Pernah ada satu waktu

Pernah ada satu waktu, semua yang ku mau begitu melekat juga dekat
Tanpa pernah meminta banyak, semua hadir,  namun tak menetap
Pernah ada satu waktu, ibu memukuli ku dengan sapu
Tanpa pernah ku tanya namun tahu, itu bentuk kekesalannya terhadapku
Pernah ada satu waktu, tubuh ku merah bahkan membiru
Tanpa dirasakan, hati ini sudah tahu bahwa itu perih sebuah pilu
Pernah ada satu waktu, aku kehilangan satu persatu
Tanpa ku hitung berapa banyak, namun tentu saja menjadi rindu
Sebuah perasaan yang tak menentu,
Seseorang yang kehadiran nya ditunggu-tunggu
Sekarang hanya menjadi selembar kertas yang sudah kutulis sejak dulu
Pernah ada satu waktu, aku selalu menyempatkan menulis
Mengenai hidupku, jejak yang pahit juga yang manis
Pernah ada satu waktu, bapa menangis dalam malam
Berbicara mengenai hidup nya yang disangkal tentang kelam
Pernah ada satu waktu, ku habiskan nafas ini dengan air mata
Menghitung butiran dosa yang menggunung dengan sendirinya
Pernah ada satu waktu, kaki ini kembali merangkak mencari kehidupan
Sendiri perlahan-lahan
Hingga rekaman jejak dihilangkan
Tak henti menggali arti kebahagiaan
Tak pernah ada satu waktu, aku merasa lebih baik untuk bernafas
Kali ini, dalam kehidupan yang tentram juga nyaman
Tak pernah ada satu waktu, aku tahu kemana akan melangkah
Kali ini, dalam pelukan Tuhan yang menerima ku tanpa lelah

Selalu ada satu waktu dalam hidup, yang selalu diingat oleh semua manusia.

14 thoughts on “Pernah ada satu waktu

  1. “bapa” atau “bapak” yang kamu maksud Fasya? sepertinya beda arti lho. sejauh ini aku memperhatikan postingan menu-menu, dan kini terbalas rinduku membaca sajak-sajak ringan yang kamu cipta. hehe..

      1. udah lama gak baca tulisanmu (akibat kamu hidangkan gambaran-gambaran yg menggugah nafsu itu), aku semacam menjadi pembaca yg rajin mengeja. hehe..

  2. kini … terus mencari
    aku mulai menemukan cahaya kebahagiaan
    kebahagiaan itu sederhana
    hanya dengan syukur dan menerima
    semua menjadi begitu indah
    apapun masa laluku
    biarlah berlalu
    sekarang mari mulai tersenyum
    menatap masa kini
    mempersiapkan masa depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s