Nulis Puisi

Sebab aku menulis puisi

Untuk pertanyaan Didik Rahmadi, tentang mengapa aku menulis puisi. Maka terjawab pada lampiran surat yang sudah terkirim ke kota nya, juga melalui halaman ini.


Ada yang bilang bahwa hidup adalah mengumpulkan kenangan. Bisa jadi benar ada nya. Menyimpan sesuatu yang kita susun untuk sebuah ingatan di masa nanti. Membagi nya, menertawai nya, merindu nya seperti yang sudah terjadi pada manusia yang merasa.

Dalam diam, aku menulis berhari-hari. Tentangku, tentangnya, tentang kita, juga tentang hidup yang tidak selalu manis untuk hanya sekedar dinikmati.

Dalam gelap, aku menulis berhari-hari. Tentang apa yang dilihat saat cahaya hadir, tentang apa yang di dengar saat sunyi, tentang perbincangan siang yang ku ikuti sesekali.

Dalam puisi, aku menulis dari hati. Tentang diam juga gelap yang sudah terlewati. Mungkin tak pasti, karena di dunia ini sulit mendapatkan sesuatu yang meyakini.

Itu sebab aku menulis puisi, hidup terlalu singkat untuk hanya sekedar dinikmati. Matahari, pelangi, hujan angin, juga pertemuan manusia yang mendekati mati.

Itu sebab aku menulis puisi, aku butuh menyalurkan kata-kata tanpa dibatasi. Puisi itu salah satu cara berkspresi tanpa di hakimi.

Mengenai sudut pandang manusia yang melihat juga membaca, aku biarkan saja agar mereka memberi persepsi sendiri-sendiri. Menikmati nya agar selalu ada perasaan baru yang datang juga pergi.

Tapi, perlu kamu tahu, aku bukan manusia yang mengerti sastra dan aku tak pandai bercerita. Aku hanya mengenal, puisi adalah bagian dari diri ini untuk menyuarakan semua rasa.

Bandung dengan cinta, untuk pemberi tanya juga kehadiran pembaca.

5 thoughts on “Sebab aku menulis puisi

  1. Intuisi
    ——–
    Yang paling enak?
    Pakai narasi
    Bisa mengudak-udak
    Ala eksposisi
    Atau melukis maya
    Kaya deskripsi
    Bahkan uji tangguh
    Model argumentasi

    Tapi ada yang bilang
    Tak asyik urai sana urai sini
    Ganti saja seribu kata
    Dengan satu ilustrasi

    Dan,
    Bagi yang merasa bahwa
    Cerita terlalu identik dengan elaborasi
    Sedangkan gambar merampas imajinasi
    Gampang..
    Bikin saja puisiπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s