Hari-Hari Fasya

10 tahun lalu

Halloooooo kalian semua yang dikangenin sama saya dan sama pacarnya masing-masing, apa kabar? Semoga selalu sehat dan happy! Berhubung bulan ramadhan, saya akan jarang-jarang ngepost review kuliner. Jadi tenang aja, saya gak akan bikin puasa kalian batal. Mungkin sesekali bakalan ngepost, itu pun ngepost karena memang tulisan nya masih di simpan di draft hehehe.

Hari ini saya mau sedikit share cerita tentang 10 tahun lalu.

10 tahun lalu, ada anak laki-laki yang memberi surat kepada saya. Suratnya dititipkan oleh seorang teman sekelas nya. Surat nya ditulis di selembar kertas yang dia ambil dari pertengahan sebuah buku tulis, seingat saya tinta nya hitam, lalu dimasukan ke dalam amplop berwarna putih yang di eratkan di bagian lem nya. Mungkin agar tak terbaca oleh orang lain, mungkin. Sesudah pulang sekolah, saya membaca nya. Isi nya adalah surat cinta, pengungkapan sebuah rasa yang diberi melalui tulisan, saya tertegun dan tak terlalu menghiraukan. Bahkan saat itu saya mengabaikan.

10 tahun lalu, anak laki-laki ini masih saja mencari celah. Dia menelefon saya hampir setiap hari. Dalam satu hari bisa menelfon lebih dari 10x. Jika saya tidak angkat telfon nya, Ia marah-marah kepada saya. Kesal sekali diperlakukan seperti itu. Pada akhirnya, saya sinis kepadanya dan menjauhinya. Dia masih bertahan, namun setelah naik kelas baru ada sedikit perubahan. Ia tidak mengganggu saya lagi. Saya juga punya kehidupan yang lain dan sama sekali tidak pernah terbesit tentang nya di pikiran saya. Ya tentu saja, saya tidak menyukai nya.

Tahun demi tahun sudah berganti, saya tidak pernah mendengar namanya dan bahkan sudah lupa namanya. Sampai suatu hari di akhir tahun lalu, dia muncul di salah satu media sosial saya. Sebut saja twitter. Dalam seminggu saya hiraukan akun nya karena saya merasa tidak kenal. Sampai akhirnya, saya mencari tahu siapa dia dengan melihat following dan follower dia, ada beberapa yang saya kenal. Tidak banyak, mungkin dibawah angka sepuluh. Setelah saya ingat-ingat kembali, saya mengingatnya dengan baik bahkan sangat baik. Dia adalah teman saya 10 tahun lalu. Saya tertawa dan mengingat masa-masa itu.

Setelah itu, tidak ada yang berubah dari kehidupan saya. Kita sempat bertegur sapa di satu aplikasi chat, hanya sekedar itu. Sesekali saya menginfokan lomba fotografi kepadanya, dan ya hanya sekedar itu. Lalu beberapa bulan kemudian, saya dan dia berbicara banyak. Satu malam, dua malam, tiga malam. Satu hari, dua hari, tiga hari. Lalu seterusnya masih berbicara. Tentang hidupnya, juga hidup saya. Tentang suratnya, juga kebencian saya. Tentang buku-buku yang menarik, juga tentang tulisan-tulisan ku yang dibacanya. Tentang pandangan dan pikiran nya, juga ide-ide yang kita berdua lontarkan. Hingga pada akhirnya, dia berbicara tentang rasa, juga tentang kebahagiaan.

Saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Hal yang sekarang sedang terjadi. Bahkan, terlintas sedetik di pikiran saja tidak pernah. Seseorang yang pernah ditolak perasaan nya, kini ada di samping untuk bersedia mendengar semua cerita, keluh kesah, dan menjadi tempat memanjakan semua rasa. Saya tidak pernah tahu kenapa ini bisa terjadi, jika saya ditanya tentu nya saya akan sulit menjawab karena memang saya tidak tahu. Saya hanya tahu, Tuhan memang pandai memberi kejutan, termasuk perihal membolak-balikan perasaan seseorang.

Jauh sekali jika saya mengatakan ini adalah yang terakhir, saya tidak munafik. Saya pun tidak tahu jodoh saya siapa. Hanya saja, saya berterimakasih pada Tuhan karena mengingatkan saya rasa yang luar biasa. Saya berterimakasih pada Tuhan, mengabulkan doa-doa saya dari beberapa perlakuan yang saya sukai darinya. Saya berterimakasih kepada jarak, yang memberikan ruang saya dan dirinya berbicara banyak tentang kehidupan.

Dia. Anak yang 10 tahun lalu menganggu saya dan saya sempat melupakannya. Sekarang dia sebagai mahasiswa tingkat akhir di Padjajaran, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sejarah. Suka sekali fotografi, hobinya motret. Kegiatan produktif nya naik gunung dan menjelajah hutan. Dia habis cuti kuliah karena ikutan ekspedisi NKRI. Kalau kalian liat dia berbuat tidak senonoh dalam kehidupan, biarkan saja. Semua orang berhak memilih mau jadi benar apa tidak, mau jadi lebih baik apa tidak, mau menjadi orang sehat atau tidak, jadi biarkan saja.

Tulisan ini dibuat dalam keadaan sadar dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Saya bahagia, perihal ending nya seperti apa saya serahkan pada Tuhan. Selamat malam, selamat puasa ramadhan!🙂

22 thoughts on “10 tahun lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s