Nulis Puisi

Embun, Abadi, dan Musim #puisimalam @nulisbuku

EMBUN – 22 September 2015

1.
Jendela pagiku berembun
Kamu menyimpan secangkir perasaan dibawahnya
Aku ingin mengaduk, sampai kembali mengantuk
2.
Embun tak sedingin yang kita kira
Peluk saja tak apa
Kadang kala, ia memang suka bercanda
3.
Jika kamu adalah puisi
Maka kamu laksana setitik embun
Penegas makna tanpa suara
4.
Hujan tidak datang hari ini
Kenangan terakhir adalah embun, secangkir kopi dingin, dan kamu yang diam-diam pergi

 

ABADI – 19 Juli 2015

1.
Sekuat apapun teriakanmu
Kenangan tetap ada, Ia abadi dalam jiwa
Tak bisa terusir kecuali hilang nyawa
2.
Surat darimu adalah salah satu yang menjadi abadi
Sesekali ku buka, ku baca, tanpa pernah mengingat luka
3.
Masa lalu akan tetap abadi
Ia menari-nari melihat masa depan yang diam-diam menengoknya dengan sembunyi2
4.
Rindu ; perasaan abadi yang paling sering hadir tanpa absen
Bisa bertahan tak diketahui
Bisa berlari mencari puisi
5.
Sore tahun lalu teduh karena kita saling menertawakan
Sore tahun ini rindu karena kita saling mengabadikan

 

MUSIM – 26 Juni 2015

1.
Mencinta tak mengenal musim
Ia hanya tau rasa hangat dalam peluk, dan damai dalam hati
2.
Disini, buah-buahan menjadi musim
Kami dilupakan tentang hujan yang hadir diakhir tahun negara maritim
3.
Aku ; perempuan yang kembali pulang tanpa rindu
Ditelan musim panas yang kering menelan pilu
4.
Kamu ; lelaki pencinta senja tanpa suara
Membenci musim hujan yang menghilangkan warna jingga dalam mata
5.
Besok atau lusa belum tentu dalam tawa
Maka habiskan saja sebelum musim berganti menelan rasa
6.
Apa kabar hujan di bulan Juni dalam buku Sapardi?
Aku ingin tahu
Sebelum bulan berganti musim tanpa prasangka
7.
Jika iya kita punya rasa
Maka kamu ku hanyutkan dalam musim lalu
Jika tidak, maka mari tenggelam bersama

 

Nb : Puisi-puisi yang pernah saya tweet di #puisimalam dengan pilihan satu kata dari akun twitter @nulisbuku

7 thoughts on “Embun, Abadi, dan Musim #puisimalam @nulisbuku

  1. Hujan tidak datang hari ini. Kenangan terakhir adalah embun, secangkir kopi dingin, dan kamu yang diam-diam pergi

    hmm..

  2. Oalah, sering ikutan malam puisinya Nulisbuku. Gue seringnya baca-bacain aja. Hehe

    Paling suka yang Abadi, tuh.
    Ia menari-nari melihat masa depan yang diam-diam menengoknya dengan sembunyi. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s