Bahas Musik

Ah, Kau Puan Kelana

Halloha bebeb-bebeb-blohher-dan-pembaca-yang-luvly-banget, apa kabar? Oke sehat ya tampaknya. Mari kita berdendang! *lah*

Draft kategori bahas musik udah numpuk tapi ujung-ujungnya gak pernah dilanjutin, malah berlanjut nulis yang baru lagi – baru lagi. Gitu aja terus sampai saya duet sama Anang 😐 Atuhlah. Ya maap ae sih kalau saya sosoan bahas musik, padahal mah gak bahas-bahas amat cuma share aja sesuatu yang saya suka.

Ah, Kau Puan Kelana…

Itu diatas adalah kalimat di sebuah lagu berjudul Puan Kelana dari Silampukau. Apa tuh Silampukau? Band darimana tuh? Fasya mah bahas band indie terus, ya mana kita tahu. Ya makanya ini ditulis biar pada tahu. Jangan bawel ih! *elus satu-satu* *gak sadar diri padahal saya yang bawel*

Menurut sumber. Silampukau adalah kepodang, salah satu biduan kondang dari alam raya; adalah cara orang-orang Melayu lampau memanggilnya; adalah duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening yang berasal dari Surabaya. Dibentuk di akhir 2009, Silampukau berusaha menyanyikan mimpi, protes, perjuangan, semangat, dan geliat kehidupan sehari-hari perkotaan dalam iringan instrumen akustik seadanya. Lagu-lagu sederhana tentang orang-orang sederhana dalam momen-momen sederhana mereka.

Ki : Mas Kharis – Ka : Mas Eki. Sumber foto disini.

Untuk lagu Puan Kelana ini menceritakan seorang perempuan di Surabaya yang ingin pergi ke Paris – padahal Paris dan Surabaya sebenarnya akan terasa sama. Perihal kota yang sama-sama pasti ada lukanya, hujan yang sama-sama menakjubkannya, bahkan anggur yang sama-sama memabukkannya. Jadi si tuan ini tampak gak rela kalau puan nya pergi dan mereka mesti ldr-an. Yauda, kalau puan pergi, mas nya sini sama saya aja. *eits fokeus*

Kalau ternyata cerita lagunya gak demikian, ya maapin sih itu cuma karangan saya aja setelah baca lirik sambil nyenyong-nyenyong liatin video mereka. Btw, nih video dan liriknya dibawah sini.

Tanya dong kenapa saya pilih video dibawah ini dibandingkan video lainnya? Yauda anggap aja kalian nanya dalam hati ya. Alasannya adalah karena di video ini, Mas Kharis rambutnya pendek dan dia gak pake topi. Lebih manis gini tau mas. Percaya sama saya deh. *siape elu*. Eh tapi selain alasan itu, di video ini banyak yang ikut nyanyi penontonnya. Iya, saya paling suka kalau nonton acara musik, terus kendengeran sayup-sayup suara penikmatnya. Duh, ena~

Kau putar sekali lagi Champs-Elysees. Lidah kita bertaut a la Francais.
Langit sungguh jingga itu sore, dan kau masih milikku.
Kita tak pernah suka air mata. Berangkatlah sendiri ke Juanda.

Tiap kali langit meremang jingga, aku ‘kan merindukanmu.

Ah, kau Puan Kelana, mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama.
Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba.

Toh, hujan sama menakjubkannya, di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Rene Descartes, Moliere, dan Maupassant. Kau penuhi kepalaku yang kosong;
dan Perancis membuat kita sombong, saat kau masih milikku.
Kita tetap membenci air mata. Tiada kabar tiada berita.

Meski senja tak selalu tampak jingga, aku terus merindukanmu.

Ah, kau Puan Kelana, mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama.
Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba.

Toh, anggur sama memabukkannya, entah Merlot entah Cap Orang Tua .
Aih, Puan Kelana, mengapa musti ke sana?

Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa, seperti Surabaya.

Lagu-lagu Silampukau memang sederhana, mereka bikin lagu tentang rumah mereka ; Kota Surabaya. Menceritakan hal sehari-hari yang biasa mereka lihat di kota nya. Menyanyikan isi-isi dari “rumah” mereka dan dikenalkan kepada semua pendengarnya dengan baik. Beruntungnya, mereka menggunakan hal-hal sederhana lainnya, yaitu iringan gitar mas Kharis dan mas Eki. Jadi, seorang saya yang otaknya pas-pas-an, bisa dengan mudah untuk jatuh cinta sama lagu-lagu mereka.

Ya, memang sih, hal-hal sederhana lebih mudah bikin orang jatuh cinta. Yomareeee~

Selain lagu Puan Kelana, lagu lainnya punya lirik yang luar biasa ; menceritakan tentang lapangan bola yang berganti gedung, tentang tempat prostitusi dolly, tentang nyanyian doa dan harapan seorang musisi indie, dan tentu masih banyak yang nyentrik dan tentu asik! Kalian bisa cek lirik-lirik lainnya di website mereka. Selain video yang ada di atas, beberapa video gigs nya juga ada di youtube. Walau saya belum nemu video gigs mereka di Bandung sih. Hiks. Yauda gakpapa, saya tetep nungguin, Mas. Moga segera main-main ke Bandung!

Nah buat kalian yang suka musik indie, suka musik folk, suka lagu-lagu sederhana, nih cobain dengerin Silampukau! Eh, kalau mereka ada gigs, saya siap banget diajak loh~

Info lainnya Silampukau :
Album 1 : Sementara Ini (2009)
Album 2 : Dosa, Kota, dan Kenangan (2015)
Twitter :  @silampukau
Instagram : @silampukau
Website : silampukau.com

37 thoughts on “Ah, Kau Puan Kelana

  1. Ya, semua kota memang sama aja. Paris dan Surabaya pasti ada orangnya. Ada pedagangnya. Ada pencopet. Paling yang bedain, cuma gak ada menara epel aja.😦

    Wuah, pengetahuan gue akan band ini bertambah lagi berkat tulisan ini. Makaseehhh!
    Enak juga lagunya, Sya. :))

  2. Baru tau ada band ini. Band yang ikut label aja gak tau, apalagi yang indie begini. Pengetahuanku soal musik indonesia emang mengenaskan :’))

    Nyaro wifi dulu ah baru nonton videonya. Btw, kalo baca liriknya, kayaknya sastra banget yak. Diksinya rada asing :))

  3. Aku suka bagian : mas Kharis kalau gak pakai topi lebih manis. Hm mbak, apalagi kalau gak pakai kacamata. Gantengnya kemana-mana. Dan lagi, di video itu ada penonton (depan sendiri) yang kayaknya senyum senyum lihatin dua kepodang itu. Tapi kayaknya sih lihatnya ke mas Kharis itu. Hehe.
    Band ini patut diacungi jempol lah ya. Barasuara pernah menyebutkan duo ini di salah satu gig yang saya tonton. Iga Massardi, lead vocalnya, bilang, “Kalian harus bangga; warga Surabaya harus bangga punya Silampukau yang musiknya bagus”. Ya kurang lebih begitu.
    Bicara soal Puan Kelana, kayaknya lagu ini paling kontras dari kesemua tema di album DKK ya. Lagu lainnya bicara soal hal-hal yang sederhana. Sedangkan lagu ini bercerita soal kisah pilu seorang kekasih yang ditinggal kekasihnya ke Perancis. Sampai-sampai gak mau nganter ke Juanda. Tapi walau kubilang agak kontras, mereka masih menyebutkan Surabaya sebagai latar tempatnya. Kharis emang jagoan. Coba mbak kulik akun Soundcloudnya dia. Beberapa lagu sebelum ia masuk ke Silampukau termasuk dalam kategori brilian. Apalagi yang Ode Tentang Kecantikan. Beuh. Dia kayak pamer kemampuannya bermain kata-kata.
    Wah kayaknya sudah panjang lebar kali tinggi ya saya ngoceh. Hehe. Salam kenal, mbak. Saya June dari Surabaya!

    1. Aku lebih suka dia pake kacamata kayanya, cuma jangan pake topi dan rambutnya rapih aja kaya pidio diatas, duh itu udah cukup manis kok🙂 hihihi *ini kenapa bahas mas Kharis nya ya Allah*

      Terimakasih ya mba June buat komentar nya yang super panjang ini, aku seneng bacanya, ada tambahan juga buat yang baca postingan ini hehe siaaaap nanti aku mampir sonklod nya dan dengerin lagunya.

      Salam kenal juga, btw🙂

  4. Apa ini Silampukau yang pernah nampang di pamflet yang itu ya? *nanya dalam hati*

    Btw, antara album 1 dan 2 jaraknya 6 tahun, jadi bener juga kalo ngasih judul yang pertama sementara ini.

  5. Pembukaannya Mb Fasy ini selalu bikin aqo tertawa ngaqaque~ Hqhqhqhqhq

    Mau komen soal band-nya, kagak ngarti. Jadi yaudah ya. Assalamu’alaykum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s