Cuma Opini

Menanggapi #makanmayit

Haiii kalian semua~

Sebelumnya mohon maaf kalau tulisan ini terkesan copy paste (copas) dari tulisan saya di instagram. Ya emang copas sih, bukan terkesan lagi hahaha. Nah, tulisan tersebut mau saya bagikan juga di blog, siapa tau ada yang gak follow instagram dan mau turut membaca.

Perbedaan dengan tulisan di instagram, kata “aku” diganti dengan “saya” – karena gaya penulisan di blog memang dengan kata “saya”. Beres tulisan yang copas itu, saya pun menuliskan (lagi) hal lainnya dibawah. Mudah-mudahan tulisan panjang ini masih ada yang mau baca hehehe.

————————————————-

Sumber : IG /abangsimpson
Sumber : IG /abangsimpson

Udah pada tau tentang #makanmayit? Itu adalah salah satu konsep di acara seni bertajuk Little Shop of Horrors Footurama. Berlokasi di Jakarta dan event tersebut akhir-akhir ini jadi viral.

Natasha Gabriella Tontey, sebagai seorang konseptor dan seniman yang punya acara tersebut ingin menunjukkan beberapa hal, yaitu perihal kanibalisme dan eksperimen sosial tentang bagaimana fantasi orang saat “makan bayi” ditambah dengan suasana yang mendukung. Dia ingin tau apa saja yang orang diskusikan saat dimeja tersedia makanan tersebut kemudian memakannya.

Selain baca dari beberapa artikel (vice, hai online, bbc, dll), sayapun baca beberapa info lainnya di instagram. Katanya makanan ini bukan hanya berbentuk bayi – yang isinya berupa puding, soup, atau makanan vegetarian. Tetapi sumber makanan tsb ditambah dengan ekstrak ASI yang didapat dari rekan sang seniman dan ada juga keringat bayi.

Sampai situ, rada kaget ya. Eksperimen sosial nya beneran bikin orang jantungan, ternyata beneran horor.

Di lain hal, ada juga ibu-ibu #pejuangASI yang merasa bahwa hal tersebut gak bisa dibilang seni karena menyinggung banyak perempuan yang pernah mengalami keguguran, kesulitan mendapatkan ASI, kesulitan punya anak, dan bentuk makanannya pun gak layak untuk dikonsumsi apalagi dijadikan hiburan bagi para penikmatnya.

Saya sendiri, bukan orang yang ngerti seni, bukan ibu-ibu yang pernah melahirkan, dan tentu belum punya anak. Tapiii beberapa minggu kemarin ponakan kembar saya meninggal di dalam kandungan usia 6 bulan dan harus dilahirkan secara normal oleh ibunya.

Bayi tanpa nyawa itu lahir dengan berat -+500gr dan dimakam-kan penuh kesedihan oleh banyak orang. Ibunya bilang “orang lain anaknya lahir beli kain flanel, aku beli kain kafan” – boook sedih yes.

Dari situ, saya jadi tau gimana perasaan ibu-ibu dan #pejuangASI yang menanggapi acara ini dengan rasa kecewa, tapi sayapun ingin melihat bahwa seni pada dasarnya bebas dan tidak semua orang mengerti itu. Kenapa? Karena semua orang punya sudut pandang masing-masing sesuai pengalaman, pemikiran, dan pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Jadi, suka atau enggak, setuju atau enggak, ya memang balik lagi ke diri sendiri. Tapi, yang paling penting sebelum bertindak / berkomentar, alangkah baiknya cari tau dulu sebanyak mungkin.

Perihal seni yang serupa dengan ini dan dianggap “aneh”, ternyata ada banyak banget! Saya aja bacanya merinding dan kaget πŸ˜‚ Kalian bisa baca di www.kandhani.net – disana seorang jurnalis menuliskan tentang #makanmayit secara luas, terbuka, dan tulisannya beneran menarik!

Btw nih, kalau saya ikutan eksperimen sosial dari Sist Tontey, udah pasti gagal sih. Meningan saya makan sate padang aja 2 porsi, dessert nya eskrim, bonus dibayarin, tinggal berangkat saya mah. HAHAHA.

Nb : Mudah-mudahan gak ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Btw, maap nih tulisannya panjang kaya jalan kenangan. Ampe dibikin part 2 segala kek sinetron, wqwq.

Nb lagi : Selain baca artikel dari vice, hai online, bbc, dan media online lainnya, wajib baca tulisan Arman Dhani di www.kandhani.net ya!

Tingkyu yang udah baca sampe akhir.

Sumber : IG /abangsimpson
Sumber : IG /abangsimpson

————————————————-

Segitu tulisan saya di instagram yang dibikin 2 part karena kepanjangan hehehe. Saya mencoba menulis dengan netral – walau saya tidak setuju. Maksudnya adalah, ke-tidaksetujuan saya bukan berarti membuat saya menjadi membenci, berkata kasar, atau malah tidak melihat dari sisi lain. Sekalinya menunjuk orang lain salah, tanpa alasan apapun tetap saja menunjuk. Saya benar-benar tidak mau demikian.

Maka dari itu saya mencari informasi sebelum menulis. Setelah dirasa cukup, maka saya menuliskan dari banyak hal, yaitu ; dari sisi seniman, ibu-ibu (juga orang lain) diluar sana, pengalaman saya, keingintahuan saya tentang acara ini, bahkan referensi bacaan (artikel dan blog) pun saya sampaikan ditulisan.

Buat apa? Buat informasi dan pengetahuan.

Setelah saya menuliskan di instagram. ramailah postingan tersebut dibaca dan dikomentari orang, entah itu teman atau memang orang lain diluar sana.

Dari komentar-komentar itulah, akhirnya saya benar-benar menyadari bahwa ke-tidaksetujuan membuat orang bisa berkata apa saja sesuka hati. Saya gak tahu, apakah orang-orang ini sudah mencari tahu banyak hal apakah tidak. Bukan berarti karena saya mencari tahu kemudian saya merasa paling benar, tidak, tidak begitu. Tapi minimal apa yang kita sampaikan berupa komentar tidak menggunakan kata kasar, tidak lantas menghujat seenaknya, dan lain sebagainya. Tapi ya kalau ternyata sudah mencari tahu dan tetap demikian, ya sudah~ toh saya pun tidak mau mengurusi hal itu.

Saya cukup tertarik dan lagi-lagi membuka mata dengan pengalaman baru, bukan tentang “makan mayit” nya, tapi tentang reaksi orang-orang. Ini baru satu hal saja, tentang #makanmayit. Bagaimana dengan hal / berita lainnya yang ada di sekitar kita? Di kota kita, negara kita, atau bahkan hal-hal personal seperti teman kita, si itu, si dia, di anu, dan lain lainnya.

Mungkin kita (termasuk saya) pun bisa (atau pernah) menjadi orang yang asal komentar, asal menilai, cuma baca judul, cuma lihat satu sisi, dan lain sebagainya.

DUH YA ALLAH KEPANJANGAN NIH MAAPIN.

Lanjut sedikit tentang #makanmayit ya, saya mau ngasihin beberapa link untuk dibaca. Silahkeun.

VICE >> Menyelami Dunia Horror Ganjil Tontey (Isi artikelnya perihal tanya jawab dengan cakupan yang cukup luas, bukan hanya tentang acara ini)
BBC >> Makan Mayit ; Wajarkah Berfantasi Menyantap Jabang Bayi? (Isi artikelnya perihal kumpulan respon masyarakat tentang acara ini)
Blog Arman Dhani >> Mengapa Makan Mayit Penting? (Tulisan nya panjaaaaang banget, tapi saya sukak! Karena ditulis secara luas, lengkap dan saya nemu informasi baru perihal seni lainnya di dunia ini yang ternyata wooow super wooow)
Blog Alex Kusuma >> 30DaysofArt 16/30: Natasha GabriellaΒ TonteyΒ  (Membahas banyak hal tentang seniman ini, karyanya, dll)

Anyway, ternyata Tontey ini masuk kedalam “30 Young Artist Under 30″ versi Nylon Indonesia. Dan, dia pun masuk kedalam “10 seniman muda bersinar” versi Detik. Saya cukup salut akan hal ini.

Menurut saya, kalau karya-karya dia sebelumnya mendapat apresiasi dan kali ini tidak, itu berarti dia sedang “salah” (mungkin) pada pameran seni nya yang sekarang. Letak salahnya apa saja, mungkin dia sendiri yang mampu mengintrospeksi. Setelah mendapat cibiran, kritik, saran, bahkan bully-an, tentu dia bisa memilih apa saja poin-poin keresahan dan ke-tidaksetujuan masyarakat ini.

Menurut kalian, gimana?

EHEM ASTAGA TULISANNYA NAPA JADI PANJANG BANGET BEGINI. Yaudaya, udah dipost jugak! Hehehe. Terimakasih yang sudah baca sampai akhir. Mudah-mudahan, yang komentar di blog ini masih menggunakan bahasa yang baik. Ya, kalaupun engga tinggal dimasukin spam sih πŸ˜›

Advertisements

18 thoughts on “Menanggapi #makanmayit

  1. Wah saya yg nggak update nih. Pernah sih baca sekilas berita makan bayi, cums yg gak menimbulkan rasa ingin tahu. Klo saya sih mikirnya simpel, selama gak melanggar hukum ya biarin aja. Perkara orang lain menghujat atau tidak setuju ya ngapain di pikirin. Indonesia emang kaya gitu. Presiden aja juga dikritik sana-sini. Padahal yang ngritik apa nggak sadar level pemikirannya dengan levelnya pemikiran presiden. Gitu aja sih.

  2. Tulisan kedua tentang #makanmayit di blog yang saya baca. Bikin geleng2 emang ka. Terlalu mengesampingkan moral demi seni menurutku sudah jauh keluar dari koridor

  3. Horor banget nih fasyaaaa…liatnya aja aku ga berani. Tapi setuju deh…manusia era sosmed itu kok kalau komentar di postingan orang yang dia ga sukai rasanya kejam banget yaaa…kalau baca2 kayak berasa hebat banget tuh orang2

  4. Noted sya. Ntar kubaca link yg kamu kasih. (Ntar kalo udah baca, komen lagi deh πŸ˜›)
    Btw, aku kmrn rada sebel waktu foto #makanmayit ini muncul di IGku. Horor, geli, campur jadi satu. Imho sih ya.

  5. Lah, aku mah makan kue cubit yang lucu dan warna-warni aja suka gak tega gitu. Apalagi kalau bentuknya bayi. Malah kue cubit itu difoto-fotoin doang, sih, karena males makannya. Wqwq. Etapi ujungnya tetep makan. Udah dibeliin temen masa gak dimakan. Mubazir.

    Sebenarnya ya dalam seni kan soal selera, ya. Tiap orang punya deskripsi dan penafsiran yang beda. Melukis orang telanjang misalnya, bagi sebagian orang itu bagus. Artistik gitulah. Bagi sebagian yang lain itu jatuhnya pornografi. Ehe.

    Sebelum komentar seharusnya emang memahami dulu tentang topik itu. Namun, nggak ada salahnya juga kok menyampaikan pendapat. Tinggal kita bisa menanggapinya dengan bagaimana. πŸ˜€

  6. Saya udah baca-baca beberapa artikel yg cnderung pro tp saya masih gk tau dimna letak seninya, apa karna sya gk pham ttg seni mngkin? Cuma gk manusiawi aja sih di lihatnya, mnrutku pribadi gk baik juga melakukan kebebasan tnpa batasan atas nma seni, mnrtku seni sih indah ya, klo udah kyak gtu msak nmya seni?? πŸ˜₯

  7. Aku juga termasuk orang yang gak setuju sih Cac sama karya seni nyeleneh ini. Mungkin aku lebih condong ngeliat dari sisi kemanusiaannya, gimana banyak perempuan yang tersinggung sama karya seni itu. Aku gak ngerti seni sih, tapi kalau menurut dia seni itu dianggap berhasil kalau udah dapet perhatian banyak orang, yaaa she did it. Entah itu dapet pujian atau malah dapet hujatan, itulah resiko dia sebagai senimannya.

    Aku udah baca dari link-link yang kamu share, sama baca di blognya Chacha Thaib juga. Mungkin iya kali ya, karyanya yang ini ada yang “salah” makanya banyak menimbulkan keresahan. Apalagi katanya ASI yang dia sebut dapet dari Jogja itu ternyata gak bener, AIMI ASI Jogja sampe ngasih peringatan. Terus pada akhirnya dia juga bungkam sih ya dan langsung private IGnya setelah karya dia ini dihujat banyak orang.

  8. Hai Fasya! Kalo aku termasuk yang berpendapat kalo seni itu nggak boleh dibatasi, tapi kalau sudah ada yang tersakiti (dan banyak) ya sudah nggak bisa dinikmati. Aku yakin Tontey ini punya visi dan misi lain, tapi kalau aku kaitin dari visi dia yang kubaca di Vice sama yang dilakuin ini yaaaa.. kurang kuat aja sih. Terlepas dari itu, good lah ya dia ini memang berprestasi. Tapi untuk yang ini aku NO. πŸ˜€

    Walaupun gak pro sama karya dia yang ini, aku tetep gak setuju juga sama komen yang semau hati. Menghujat dan mengeluarkan kata2 kasar hihihi..

  9. Iya sih kadang kalau baca suatu postingan yang mengundang ketidak setujuan alias sarkasm gitu malah lebih asik baca komentarnya. Meskipun udah UU ITE tapi ya namanya kalau orang udah kepalang marah kadang bisa aja nulis komentar sambil gak mikir wkwkwk
    Tulis aja tulis, masalah nanti kena bully balik atau engga kadang ngga mikir.

    Contohnya kemarin tuh ernest prakasa kena bully di Internet karna suatu tweet. Astaga aku baca mentionnya aja ngeri wkwkwkw

    Dan kembali lagi soal makan mayit.
    Aku pun pernah menjadi kak fasya yang ponakannya ga ada waktu di dalem kandungan usia 5-6 bulan dan dilahirkan tetep dengan cara normal. Jadi aku juga paham lah rasanya gimana itu, dan paham juga lah gimana sedihnya mbakku.
    Aku pun punya mbak yang blm punya anak sampai sekarang dan itu rada rada bikin keki pas liat acara makan mayit ini.

    Wkwkwkww

    Dasar manusia tak berpendidikan.

    Lah
    eh tapi kok dia seniman paling bersinar ya ?
    Tak berpeendidikan dari manaa?
    wkwkwk

    Yhaa sudut pandang orang sih emang beda beda.
    Dan seni memang bebas.

    Tapi ya tetep sih

    Ga gitu juga

    #kekeeeh

    Lah komentar aku kok panjang banget ya πŸ˜€

    1. Itu aku baru selse baca yang di kandhani .net wkwkwkww

      Bener juga sih ya.

      Tapi ya gimana gimana orang indonesia masih gak awam sama hal hal yang begini.
      Pun emang betul sih yang upload2 juga ga ngasih penjelasan yang wajar sehingga orang orang mau ngerti.
      Yg upload2 terkesan asal upload.
      Ketauan lambe turah.
      Di upload lagi.

      Panas wis. wkwkwk

  10. FASYA GILAAA ITU FOTO APAAN SEREM BENER!!

    Gue gak tau letak salahnya di mana walaupun gue UDAH PASTI PENGIN MUNTAH LIAT BEGITU DOANG AJA ASTAGA?!! Tapi ya kalo tujuannya pengin tahu gimaa reaksi orang-orang terhadap makanan itu di atas meja, ya sah-sah aja menurut gue. Kayak misalnya gue pengin tahu ah gimana ya reaksi orang kalo gue minum kopi tapi di dalamnya ada cicak. TAPI YA KAN GUE KAGAK BAKAL MAU.

  11. hiyyyy …. demi seni kadang jadi aneh ya …. batasannya apa ya
    yang menurut kita porno juga bisa di sebut seni oleh mereka …
    kita aja katanya yang ngga nyeni .. ngga ngerti ..
    ngga ngerti seni saya mah .. sudah ngikut kata Alqur-an dan Hadist ajalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s