Dan Lain Lain

Baca Buku Sampai Puncak Carstensz

Rak buku saya memang didominasi oleh buku-buku novel. Entah kenapa, baca novel kaya punya banyak bonus gitu. Informasi iya, imajinasi iya. Tapi jangan salah, semua buku juga insya Allah bermanfaat kalau kita bisa ngambil sesuatu yang baiknya, minimal untuk diri sendiri.

Buat saya, baca buku fisik memang lebih menyenangkan karena bisa disimpan, dipajang, dikenang. Walau sudah berkembang buku digital, tapi buku fisik tetap dihati buat saya. #ciyee. Soalnya, senang aja gitu rasanya kalau dirumah ada ngejajar buku-buku. Syantik rasanya. Syantik pake sy wkkk.

Dua mingguan lalu, mendaratlah dirumah saya buku novel berjudul The Secret of Carstensz karya Marino Gustomo. Tahun lalu saya udah baca sinopsis nya dan saya sangat tertarik. Akhirnya ada lagi tambahan novel yang isinya gak cinta-cinta-terhadap-pasangan, yeay! Hahaha receh ya maap. Tapi beneran, saya antusias nungguin novel ini terbit. Gimana engga, novel ini nyeritain perihal Indonesia bagian paling timur yang – jujur, saya sendiri gak paham apa-apa disana ada apa.

Sumber foto : @marinogustomo

Sinopsis – sumber

Pada tahun 1996, sebuah misi eksplorasi Papua menerbangkan satu tim gabungan ke Puncak Carstensz. Misi yang dibiayai oleh perusahaan manufaktur peralatan pertambangan dari Amerika Serikat ini kemudian mengalami bencana. Badai besar menghantam para eksplorator dan peneliti di lembah Carstensz terdalam. Sembilan orang dinyatakan meninggal, sementara tiga lainnya hilang. Salah seorang yang hilang adalah Robert Stanford, investor peralatan tambang modern. Temuan Standford itu menjadi sasaran banyak perusahaan pertambangan raksasa dunia.

Dua puluh tahun kemudian, satu kelompok jajaran direksi yang terdiri dari empat orang super kaya yang di sebut The Board, kembali membuat misi untuk mencari Standford. Terpilih Krisna Kusuma, pemuda yang memiliki segala kemampuan, keterampilan, dan pengalaman yang mumpuni. Bersama timnya, Krisna menjelajahi Carstenzs.

Krisna dan kawan-kawan tidak tahu, misi The Board dalam ekspedisi itu sebenarnya untuk menemukan sebuah lokasi hasil tambang emas terbesar di dunia, di bawah gunung yang disebut Perut Naga. Berselimut salju abadi di garis ekuator, jauh di bawah Puncak Carstensz, emas itu bersembunyi. Tempat itu menyimpan kandungan emas dua kali lebih banyak daripada yang ada di Grasberg saat ini.

Berhasilkah Krisna menemukan Stanford? Apakah mereka kemudian menemukan emas yang diincar oleh The Board?

The Secret of Carstensz (TSOC) mengajak saya untuk mengenal Pulau Papua lebih dalam, mengenal potensi alamnya yang super melimpah, mengenal apa saja yang sudah dikelola disana, dan isu-isu yang pernah terjadi disana. Bahkan, kadang saya lupa bahwa ini adalah novel yang tentu didalamnya terdapat fiksi atau penambahan dan pengurangan informasi.

Sesuai dengan sinopsis yang ditulis diatas, novel ini menceritakan tentang Krisna, Rinjani, Abdul, dan Dendy. Mereka adalah empat orang sahabat yang sudah dikenal banyak orang karena sering menaklukan banyak gunung di Indonesia. Bukan hanya dikenal, tapi mereka menjadi kandidat dalam project besar yang ternyata didalamnya dipenuhi banyak rahasia. Iya, project besar itu adalah mereka diajak kembali untuk bertemu dengan Puncak Carstensz untuk menemukan Robert Standford yang sudah 20 tahun menghilang. Dimanakah Carstensz itu? Papua. Baru tau? Nah sekarang udah tau berkat novel ini 😛

Bertemu kembali dengan Puncak Carstensz, Krisna – sebagai leader pendakian begitu antusias. Tetapi Ia harus menyelesaikan satu persatu konflik yang belum terselesaikan antara dia dan teman-temannya. Selain itu, project yang begitu banyak teka-teki pun membuat otak mereka berempat berpikir lebih jauh dan dalam. Yang menarik, setiap percakapan mereka, saya menemukan banyak informasi yang jujur baru saya ketahui.

Pokoknya, novel ini menyuguhkan bacaan baru yang menarik, informatif, dan penuh imajinasi. Konflik setiap episode pun dikemas dengan rapi. Alurnya tenang namun pasti, cocok buat cewek-cewek yang suka dengan kepastian, wajib baca ini! 😛 Eh kok? Engga-engga, ini serius, buat kalian yang mau cari bacaan jenis novel dan lagi bosen dengan tema cinta-cinta-terhadap-pasangan, wajib banget punya novel TSOC dengan tema yang lebih nasionalis tapi gak berat dibaca. (( berat dibaca )) wkkk.

Terus ini novel gak ada cintanya gitu? ADA! Cinta terhadap negara sendiri, pulau sendiri, yang kadang kita merasa begitu mudah memiliki tapi ada yang sadar diri dan lupa diri. Gak lupa, terselip cinta persahabatan yang begitu dekat dan saling peduli satu sama lain. Penasaran? Baca dong! Kalian akan dibawa sampai Puncak Carstensz dan begitu menikmati setiap sudut mahakarya-Nya.

Anyway, terimakasih untuk kiriman novelnya, Marino! Saya sukak! Semoga teman-teman yang mampir blog ini pun begitu. Karena ini tulisan jujur, murni dari saya sendiri. Oiya, informasi pembelian buku saya tulis dibawah ya. Gih buruan pada beli~

Sumber foto : IG @marinogustomo

Online : Klik disini.
Offline : Gramedia dan toko buku lainnya. Cari di jajaran buku fiksi.

Kalau misal gak nemu buku fisik di toko, silahkeun langsung beli online biar praktis dan ekonomis ya! Eh, kalian juga pada suka buku fisik kaya saya kan? Kalau iya, toss dulu dong kitaaah, sambil ngopi-ngopi dulu bisa kalik nih~

Advertisements

28 thoughts on “Baca Buku Sampai Puncak Carstensz

  1. Eh itu bukunya item fontnya putih? Apa cuma bagian endorsementnya aja? Aku juga suka buku fisik. Tapi akhir2 jadi lebih adaptasi buat baca ebook soalnya lebih mudah didapat. :b

  2. Masa aku ngira Carstensz itu gunung di Eropa sana. Ternyata di Indonesia, ya. Selain itu, aku juga ngira buku ini novel terjemahan, gitu. Waduh, salah menduga ya, cuma gara-gara ada Carstenz. 😦

  3. tossss dulu laaah…
    Aku juga suka koleksi buku. BANGETTTTS. Pake “s”.

    Dulu sih sukanya minjem minjem buku buat di baca, semenjak kerja mah lebih suka beli beli buku tapi gak tau bacanya mau kapan wkwk *songong abiz . Pake “z”*

    Nah! Aku jadi penasaran sama bukunya. Wkwk eh gunung itu beneran ada ? Apa cuma fiksi? Serius baru denger hahahaa.
    Dulu aku kalau beli novel tuh ya pokoknya yang sampulnya bagus, sinopsisnya bagus.
    Tapi kini, kalau liat sinopsis cinta cintaan entah kenapa aku mager beli. Bahkan bukunya mas aih yang baru keluar itu aja aku blm pengen beli, padahal aku suka tulisan dia di blog.
    Ah mungkin memang sudah bukan masanya main cinta cinta an? Maunya di cintai yang beneran. Eaaaaa

    1. Songong ya sebagai dedek-dedek karyawan yang sibuk, baca buku aja sulit hahaha.

      Ada beneraaaan! Googling gih, seru2 artikelnya *lah nyuruh*. Aku pernah beli buku, sinopsisnya bagus, ternyata isinya zonk. Akhirnya aku kasih ke orang lain deh bukunya. Ada juga beli buku yang sinopsisnya tentang kehidupan gitu, katanya hidup santai kaya minum kopi atau apa gitu lah ya, aku lupa. Eh isinya kaya motivasi buat non muslim. Huhuhu kenapa aku anaknya kejebak di sinopsis, kesyel 😦

      MAU DONG DICINTAI BENERAN JUGAK. AELAH WKKK.

  4. Karena buku fisik itu gak bikin mata lelah pas baca di gadget. Apalagi aroma kertasnya, uuhhh ntap! Itu momen sakral yang gak bisa dilakukan pas baca buku-el. 🙂

    Beneran gak ada kisah pemanisnya gitu dari konflik utama? Sama sekali tanpa cinta-cintaan lawan jenis? Hm. Menarik sepertinya. Fokusnya jadi gak kebagi. 😀

    1. Setujuuuu. Mata lebih aman karena gak liat gadget terus2an. Gak harus ngecharge jugak hahaha.

      Gak ada cinta lawan jenis yog, walaupun begitu, kita tetep nemuin hal2 manis dan seru dari yang lainnya 👌

  5. wogh masuk testimoni, ceritanya pamer ya ini? *dikeplak*

    kalo bagus terus best seller semoga difilmkan ya. Masukin list buat dicari deh. Lagi butuh bacaan juga huhu.

    1. Yoooi, seneng nama nya muncul wkkk. Gitu doang seneng ya dasar receh 😂

      Mungkin bagus sih kalau difilmkan, tapiii sebel industri film nya jadi gak kreatif, filmnya dari novel mulu huhuhu.

      Gih Yogaaa baca, semoga sukaaak!

  6. Puncak Cartensz ini puncaknya pegunungan Jaya Wijaya kan ya? Salah satu puncak gunung yg tertinggi di dunia dan diselimuti oleh salju abadi. Aku juga lebih suka buku fisik Sya, karena alesan yg aneh sih. Aku suka baunya. Hahaha

    1. Betul mba Ninaaa 👍 iyahaha banyak yang suka baunya ya, aku sih suka karena lebih nyaman aja bacanya dibanding dari hape gitu bikin mata sakit.

  7. Mudah2an dalam waktu dekat ke Toko buku. Siapa tahu kalau sudah pegang dan baca2 bisa tertarik dan bawa ke kasir. 🙂

    salam kenal, Fasya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s