Keluar Bandung

JOGJA : Mengunjungi Rumah Mbah Reso

FASYA KE JOGJA! (lagi)

Kata (lagi) seolah-olah saya sering kesana, padahal gak juga sih. Terakhir ke Jogja itu Desember 2015 dengan misi kopdar dan liburan. Sebelum masuk ke tulisan, boleh loh mampir ke tulisan Seminggu Nge-Jokja – waktu itu, tinggal baca disini.

Sekarang, saya ke Jogja dengan misi memenuhi undangan liputan dan juga menyempatkan diri untuk liburan – walau cuma di daerah kota. Perihal jalan-jalannya akan ditulis dipostingan selanjutnya ya. Kali ini saya mau share saat saya mengunjungi rumah Mbah Reso.

Siapakah Mbah Reso? Beliau adalah perempuan berusia 95 tahun yang menjadi pengrajin tenun lurik tradisional sejak usianya 15 tahun. Beliau tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Karyanya hanya dihargai 20rb – dengan waktu pengerjaan 5 hari untuk satu lembar kain. Tetangganya bahkan anaknya, sudah berpindah menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin) yang bisa menghasilkan kain lebih banyak dan cepat. Tapi, hanya Mbah Reso yang bertahan dengan tenun tradisionalnya.

Kenapa tiba-tiba Fasya mengunjungi Mbah Reso?Β Karena undangan dari Kak Yuris Aryanna dan Kak Yongki Ongestu – mereka berdua adalah orang dibalik film pendek #endofblackera. Pernah saya ulas juga di blog sebelah (blog Fasya and Friends) sewaktu #endofblackera mengadakan screening film di Bandung. Tulisannya bisa dibaca disini.

Singkatnya adalah, film pendek tersebut adalah prolog dari film yang akan mereka selesaikan suatu hari nanti. Saat ini mereka sedang mengenalkan #endofblackera di beberapa kota, mengenalkan tujuan dibalik film ini, dan siap menerima feedback dari orang-orang yang sudah datang ke acara screening filmnya.

Tenun lurik karya Mbah Reso ini digunakan oleh Kak Aryanna di film ini, yang dimana Kak Aryanna adalah seorang costume designer. Ia ingin mengangkat budaya Indonesia dari pengrajin-pengrajin lokal yang kurang terperhatikan, salah satunya Mbah Reso.

Selengkapnya, teman-teman boleh mampir ke link tulisan diatas ya. Hehe.

—————————————-

Perjalanan 9 jam Bandung – Jogja tidak saya habiskan sendiri, tapi berdua sama Anggietta. Begitupun perjalanan dari Jogja – Klaten yang menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam – saya bersama Anggiet, Kak Aryanna, Kak Yongki, dan Mas Victor.

Kak Aryanna tidak bisa menghubungi siapapun dari keluarga Mbah Reso, alasannya adalah keluarga tersebut tidak memiliki hp – satu orangpun. Jadi, satu-satunya cara untuk tahu kabar beliau adalah mengunjunginya secara langsung. Begitupun dengan hari ini. Saya dan Anggiet begitu senang akan mengunjungi rumah Mbah Reso, yang biasanya hanya diceritakan saja atau lihat dari film dokumenter dan film pendek #endofblackera, eh ini bakalan kesana langsung.

 

Saat kita sampai, suasana desa tersebut cukup sepi, begitupun rumah Mbah Reso. Pintu tertutup dan tidak ada aktivitas seperti menandakan rumah dalam keadaan kosong. Dan, benar saja, rumah tersebut kosong tanpa dihuni siapapun.

Penghuninya sudah pergi – untuk selamanya.

Saya dan Anggiet cuma bisa saling lihat, bingung, dan ngerasa kok sedih sih… kok saya gak sempet ketemu buat nulis perihal perjuangan beliau… kok jadi gini sih, cuma, okelah yaudah mungkin emang sudah jalannya gitu. Perjalanan kita berlanjut mengunjungi rumah anaknya yang ada dibelakang rumah Mbah Reso.

Mbah Reso meninggal saat bulan April 2017, di akhir hidupnya Mbah Reso memang sempat sakit dan tidak mau tertidur. Katanya beliau takut tidur selamanya πŸ˜₯ dan Mbah Reso memilih untuk duduk saja. Benar saja, saat dia memilih untuk tidur, beliau tertidur untuk selamanya.

Sedih ngetik ini. Huhu.

Sebelum meninggal, Mbah Reso mengingatkan anaknya bahwa ada orang yang sudah memesan dan akan membeli kain tenunnya. Hanya saja, Mbah tidak ingat siapa yang akan membeli kain tersebut. Mbah hanya meminta agar kain tersebut tidak dijual ke siapapun yang menanyakannya. Dan, sebenarnya orang yang akan memesan adalah Kak Aryanna.

Setelah ngobrol banyak dan memberi sedikit bingkisan untuk keluarga Mbah Reso, kita berangkat ke makam Mbah Reso ditemani oleh salah satu anaknya. Hmmm ralat, yang ngobrol sebenernya Mas Victor, sedangkan saya, Anggiet, Kak Aryanna dan Kak Yongki cuma nyimak aja karena gak ngerti πŸ˜›

Selamat jalan Alm Mbah Reso. Mungkin disana Alm senang karena disisa-sisa hidupnya, ada orang yang memperhatikan beliau secara berkelanjutan, memperjuangkan karyanya agar dihargai lebih baik oleh orang lain, dan tentu Mbah pasti senang karena karyanya bisa dilihat banyak orang melalui film ini. Semoga begitu.

Tenun lurik tradisional memang sulit dikerjakan, pengerjaannya pun membutuhkan waktu yang lama, bahkan anak-anaknya pun tidak ada yang mau meneruskan karena ATBM sudah lebih memudahkan mereka. Tapi, karya yang dihasilkan memang berbeda, karya tenun tradisional milik Mbah Reso begitu rapi dan detailnya bagus.

Saya pribadi, mungkin juga Anggiet merasa senang dikasih kesempatan untuk bisa berkunjung kerumah Alm Mbah Reso, rumah saat beliau hidup dan rumah saat beliau istirahat selamanya. Semoga diterima disisi-Nya ya Mbah πŸ™‚

NB : Buat yang penasaran film #endofblackera boleh mampir ke IG @endofblackera ya! Dan, buat yang penasaran tulisan selanjutnya perihal jalan-jalan di Jogja, nantikan setelah komen-komen dibawah sini hahaha~

Advertisements

17 thoughts on “JOGJA : Mengunjungi Rumah Mbah Reso

  1. Pas nyampe bagian untuk selamanya kok rasanya emang sedih. (didukung cara km membawakan tulisan ini 😒 )

    Ada monolog yg unik dr mbah Reso ini yg ga mau tidur dan kalau tidur akan tidur selamanya. Unik krn org setua dirinya masih punya semangat untuk terus melanjutkan hidup.

    1. Aku juga ngetiknya sedih 😭 huhu iyaaa, Mbah nya swag banget 95 tahun masih semangat dan bisa bikin tenun lurik yang detailnya bagus. Jagoan πŸ‘

  2. Mbah reso tangguh sekali tetap memperthankan ke-tradisonalan meskipun yg lain sudah berganti pakai mesin, salut πŸ‘ filmnya kece banget, sukaaa πŸ‘

    1. Gak pake mesin sih, tapi ATBM (alat tenun bukan mesin) dan emang lebih dimudahkan banget kalau pake ATBM, cuma Mbah keukeuh gakmau. Ketje yak, swaaag! 😁

      1. Oh yaa yaaa, brusan paham πŸ˜…πŸ˜… salah yaa, aku pikir klo gk tenun manual ya psti mesiin 😰 gra-gra aku gk tau jdi ini ngegoogle, mksih syaa jd buat pengen tau seputar pertenunaan πŸ˜†

  3. Aduh, Mbah…. :’)

    Meninggal pas keadaan tidur bukan karena berbaring di rumah sakit, sepertinya damai banget, ya. πŸ™‚

    Jadi kain buatan si mbah ini nongol di film End of Black Era, Sya? Hmm. Coba kuintip deh IG-nya. πŸ˜€

    1. Beliau sempet masuk RS tapi kalau gak salah gak betah dan ingin pulang.

      Iya Yog, film #endofblackera banyak pake buatan dalam negeri salah satu yang diangkat yaitu kain lurik karya Mbah Reso πŸ™‚ gih kepoin IG nyaaa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s