Tentang Psikologi

5 Tips Saat Kamu Putus Asa

“Kak, sibuk gak? Mau cerita”
“Fasy, lulusan psikologi kan? Aku mau curhat”
“Ca, menurut kamu gimana dari sisi psikologinya?”

PERMISI YA WAHAI KAUM ADAM HAWA SEKALIAN.

Saya mau informasi sedikit bahwasanya kalian semua, kamu kamu kamu, bisa cerita kepada siapapun yang menurutmu orang itu layak untuk dijadikan pendengarmu, layak untuk menyimpan ceritamu, dan layak untuk membantu menenangkanmu. Belum tentu memberi solusi memang, tapi apalah arti solusi dan saran kalau sebenar-benarnya keputusan, ada di diri kamu sendiri. Ya kan? Iya.

Jadi, gak usah jauh-jauh dulu mencari teman yang lulusan psikologi lah, lulusan ini lah, itu lah. Walaupun menurut kalian, ada banyak manfaatnya kalau curhat sama anak psikologi, dengan harapan dia lebih mengerti dan lebih bisa mencarikan solusi yang tepat. Tapi percayalah, siapa saja bisa menjadi pemberi luka, siapa saja bisa jadi penyelamat duka.

Sedep.

Baiklah, jadi di tulisan ini… sesuai judul yang udah tertera diatas, saya mau menuliskan perihal 5 tips saat kamu putus asa. Terdengar sepele bukan? Tapi tidak apa, ini tips murni dari saya. Bukan tips ala-ala artikel google. Halah.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
1. Ceritakanlah apa yang harus diceritakan kepada orang yang tepat
Silahkan dibaca baik-baik. Ceritakan. Apa. Yang. Harus. Diceritakan. Iya, gak usah semuanya. Gak usah sedetail-detailnya. Gak usah sepanjang jalan kenangan. Kalian pasti tau part mana aja yang seharusnya diceritakan. Selain itu, ceritalah kepada orang yang tepat. Ingat, tepat! Tau darimana sih dia tepat atau engga? Simplenya sih, cuma kalian yang tau tepat atau engga orang tersebut. Kamu percaya karena dia sahabat, karena dia keluarga, karena dia orang yang mengerti tanpa menghakimi, dan apapun alasan lainnya. Kenapa gak boleh cerita detail sih Fasy? Boleh aja sih sebenernya. Tapi, selain buang-buang waktu, biasanya ceritanya jadi ngalor ngidul kesana kemari. Jadi menurut saya, ceritakan secukupnya. Pada orang yang tepat, tentunya.

2. Semakin banyak cerita, semakin sulit mengambil keputusan
Percaya gak? Saya percaya dan mengalaminya demikian. Semakin banyak cerita, akan semakin banyak saran, semakin banyak informasi, semakin banyak hal yang sebenarnya jadi menghambat kita untuk melakukan sesuatu. Jadi, stop untuk menceritakan tentang diri kita ke si A, B, C, D, bahkan sampai Z. Selain sulit mengambil keputusan, kamu bisa terjebak dengan masalah baru, yaitu orang-orang yang mulutnya ember alias tidak bisa dipercaya. Hehe.

3. Berani keluarkan emosi
Kalau butuh nangis, ya nangis aja. Kalau butuh marah, ya marah aja. Kalau butuh ketawa, cari bahan ketawa sampai kamu benar-benar ketawa. Kalau saya, biasanya nangis sendirian dikamar biar gak keliatan orang. Simple nya sih, saya tetap mengeluarkan emosi saya, tapi saya gak mau ganggu kenyamanan orang lain. Gitu. Tapi, ada banyak cara sih tergantung orangnya. Btw, saya suka gak paham sama konsep “laki kok nangis?” di pikiran beberapa orang, lah why not? Laki dan perempuan sama-sama manusia, mereka punya titik lemah sendiri-sendiri. Menangis bukan berarti tidak kuat, juga sebaliknya, kan?

4. Ingat hal-hal menyenangkan, ingat hal-hal positif
Banyak orang, yang sedang putus asa merasa tidak mampu melangkah lagi, tidak mampu menyelesaikan masalah, tidak mampu untuk menuntun dirinya sendiri, tidak lagi merasa berharga atau sudah benar-benar lelah dengan keadaan. Dengan begitu, biasanya kita lepas kendali dan memilih untuk mengakhiri hidup dari segala keadaan. Saya juga ngalamin. Mungkin dari sekian yang baca ini juga ngalamin. Rasanya “kalau gak dosa, dan gak sakit, mati enak kali” – padahal, gak se-enteng itu. Maka dari itu, mari kita ingat hal-hal menyenangkan selama kita hidup, hal-hal yang emang sudah kita lalui sejauh ini, hal-hal positif yang bikin kita sadar kalau resiko manusia hidup ya ada masalah. Percayalah, senang itu ujian, sedih itu ujian, hari-hari kita semuanya ujian. Jadi, tetaplah hidup!

5. Ambil keputusan yang paling bisa ditanggung-jawabkan
Sepele bukan? Tapi, pada nyatanya banyak keputusan yang diambil karena permintaan orang lain. Padahal ya, yang menanggung kedepannya adalah kita, bukan? Tapi, biasanya kita dianggap gak mampu untuk bertanggung jawab, dan seolah-olah orang lain yang akan bertanggung jawab dengan hidupmu. Hiks. Ya tapi intinya, carilah keputusan yang tentu didalamnya ada resiko, bahkan berbagai macam resiko (apapun itu) – yang mana kamu HARUS bisa melewatinya, menanggungnya, dan siap dengan keadaan nantinya.

—————-

HORRAY! SEKIAN. Iya, lima aja. Kalau misal teman-teman ngerasa, kok gak ada religi nya sih? Kok gak ada bagian nyuruh kita solat (kalau muslim)? Kok gak ada bagian nyuruh kita tobat? Kok ini kok itu? Baiklah. Sini sini ngejajar, saya jelasin dulu sedikit.

Solat itu urusanmu. Kebutuhanmu. Begitupun dengan berdoa. Ke mesjid, ke gereja, bertaubat, atau apapun bentuknya. Agamamu dan isinya adalah kehidupanmu. Kalau teman-teman merasa harus solat, lakukan. Simplenya, seperti ini. Saya lapar, maka saya makan. Saya haus, maka saya minum. Saya sedih, maka saya nangis. Saya butuh Tuhan, saya menemuinya. Gitu.

Jadi, apapun yang terjadi di kehidupanmu, senang atau sedih, semoga kalian (saya juga) tetap menemui Tuhan. Itulah, kenapa gak saya masukin untuk jadi 5 tips saat kamu putus asa.

Tapi, dari nomer 1 sampai 5 ini, dapat disimpulkan bahwa…

Tetaplah hidup walau kamu putus asa, tetaplah bernafas walau kamu berat untuk melakukannya, tetaplah berjalan walau kamu buta arah, tetaplah bantu diri sendiri untuk tetap dicintai oleh kamu sang pemilik tubuh, terakhir… tetaplah bantu orang putus asa di sekelilingmu!

NB : Tulisan ini untuk penyemangat buat siapapun yang baca, termasuk untuk diri sendiri. Juga, sebagai permintaan maaf kepada diri sendiri karena….. ada deh! Hahaha, bye! Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ❤

Advertisements

51 thoughts on “5 Tips Saat Kamu Putus Asa

  1. suka, memang beribadah bukan karena kita sedang sedih saja, karena ibadah adalah keharusan
    tapi memang benar, ada temanku yang suka cerita2 kalau lagi galau keterlaluan, tapi disaat sudah banyak cerita kesana kemari dan kebanyakan sudah memberi jawaban menurut versinya masing-masing justru dialah yang tambah binggung.

    1. Hehehe iya, kalau kita gak pinter2 nerima saran, bisa jadi kejebak sama keputusan ya mas 🙂 maka dari itu, lebih mudah dengan… gak usah cerita ke banyak orang.

  2. mau nyemangatin teh fasya ah

    semangaaaattttt teh 💕

    smg selalu semangat dlm menjalani hidup ini ya teh. semangat untuk selalu ngasih semangat ke org lain juga. Fighting~!!

  3. intinya cerita bukan? terserah mau ke siapa saja. kalau tidak menemukan orang yang tepat, lebih baik menulis. kalo aku sih gitu dulu, nulis aja. bukan blog sih. lebih ke tulisan offline trus dibaca lagi. gitu sih aku. *lah curhat*

  4. Semangaatt Fasyy…
    kalo kamu syedih, baca komen-komenku yang ngerusuh ajaa… pasti kamuh bahagiah… hahahahahaha XD

    Iyaahh… aku setuju banget semua poin yang kamu tulis diatas. terutama,CERITALAH KE SATU ORANG SAJA. karena aku juga seperti itu. hehehehe. dan aku juga ngalamin juga, banyak yang curhat ke aku karena aku lulusan psikologi. Yu know, kebanyakan mereka cerita bukan karena ingin mendapatkan solusi yang tepat, tapi cuma ingin sambat alia mengeluh. Yang lebih gila lagi, dia cerita ke banyak orang tentang masalahnyaaaa… lah dia itu mau curhat apa mau nyebar aibnya sendiri??
    dan kenapa saya jadi ikutan curhat dan nyebar aibnya orang disini???? #astaghfirullah~
    udah ah aku pamit. daripada nanti lanjut ghibahnya… hehehe

    1. EONNIEEEE! Aku selalu bahagia dong kalau baca komen kamu wkk leuuvv.

      Ih cucok eym, betul sekali kita senasib, kirain orang yang curhat sama kita akan hati2 dengan cerita tsb karena kita begitu hati2 dengan cerita mereka, tapi eh tapi… besok2nya pas tau dia cerita ke banyak orang. Langsung bingung lah oe gak paham -___-

      Btw sekedar info buat eonnie, aku ada rencana ke Malang awal Desember, kerjaan sih hmm tapi moga aja sempet ketemu ya, moga aku gak sibuk hahaha.

      1. sudah kuduga kamu pasti bahagia baca komen akuuuhh…. wkkk

        emmmbeeerrr… kita uda hati-hati dengan cerita mereka, eh mereka sendiri yang ember ke orang lain..

        ohyahh??? assiikk…asiiikk…. ah gak papa Fasy… ntar kalo kamu gak sempet ke batu, aku yang nyamperin ke malang. meskipun cuma bentar, aku sudah ingin sekali bertemu dengan makhluk Tuhan paling gemesh ini… :-*
        beneran kabar-kabar loh yahh, Fasy??

  5. Motivator kelas psikologi, dengan maksud terselubung kalo lagi stress jangan cari gue mulu (fasya yang ngomong), wkwkwk… Gue juga bisa stress, wadaw. 🙂 Nice post btw.

  6. Saya justru ingat perkataan mantan soal menangis, “Kalau lu percaya sama kalimat yang bilang cowok yang suka nangis itu lemah. Itu terserah. Tapi buat gue, orang yang nggak nangis justru lebih lemah. Dia takut meluapkan perasaannya. Dia lemah karena buat jujur sama diri sendiri aja takut.”

    Nggak tau kenapa, dia menggeser pemikiran saya soal cowok yang nangis. Pas mau nangis, ya saya nangis tanpa perlu ditahan-tahan. Kalaupun malu, seperti yang Teh Fasya lakukan, saya bisa nangis sendirian di kamar tanpa mengganggu kenyamanan orang lain. :))

  7. Beberapa curhatan memang hanya perlu didengar, mereka hanya butuh ruang untuk berbagi.

    Btw, kenapa gue ngerasa postingan ini emosinya meletup-letup ya ?

  8. Wah sering jadi temen curhat panggilan gitu ya kak haha
    Mumpung lagi bahas beginian skalian konsul ah~
    Berhubungan dengan nomor 4, gimana kalau orang tersebut mikirnya terlalu positif kak? Misalnya jadi cepet banget move on nya dari situasi keterpurukan. Itu bahaya nggak sih kak? Kadang ngerasa bersalah aja kenapa nggak bener-bener dipikirin akibat keterpurukan itu

    1. (( temen curhat panggilan )) HAHAHAHA

      Terlalu positif tuh gimana? Bener dia positif atau nganggap enteng sesuatu karena mikirnya “yaudahlah”.

      Tapi ya, bisa jadi itu cuma bagian luar aja, bisa jadi dalemnya dia gak kaya gitu. Kita kan gak pernah tau. Tapi yang jelas, kalau dia salah karena mikirnya terlalu santai ya tetep harus kita ingetin. Cukup ingetin aja sih. Karena yang bener2 tau dirinya ya dia, yang ambil keputusan buat hidupnya juga dia, hehehe. Yang jelas “move on” dari keterpurukan orang itu beda2 prosesnya, ada yang lama, ada yang cepet, ada yang move on kalau udah abcde, dan lain lain~

      Terjawab gak sih? Anggap aja iya ya. Aku mah apa atuhlaaah wkwk

      1. NAH ITU! Mental “yasudahlah” yang kayaknya bikin cepet banget move on nya. Yang selalu memaksa untuk melihat sisi positifnya walaupun itu kecil huhu

        Terjawab kak terjawab 😂😂😂
        Bakal diingetin ke orang itu dengan cara sealus mungkin

  9. Mba Fasy… Boleh dibalik g pertanyaan? Bagaimana menghadapi orang yang kalau curhat, detail dan ceritanya presisi luar biasa sampai paket data habis karena telpon wa :’D kadang ingin menyela tapi takut bikin yang bersangkutan sakit hati :’) :’)

    1. Saran : pasang wifi mas 🙂
      HAHAHAHAHA.

      Oh oke aku mulai jawaban ini dengan seserius mungkin. Ehem. Tapi aku mau nanya juga, itu yang nelfon dia atau kamu? Kalau aku sih biasanya, yang mau curhatlah yang nelfon, jadi paket data dia abis atau gimana, aku gak urusan wkkk.

      Tugasku cuma nyiapin waktu luang aja untuk dengerin (kalau nelfon) dan untuk bales chat (kalau via chat).

      Biasanya kalau chat, aku selalu memulai dengan : kalau udah beres ngetik, bilang “udah” ya ke lawan bicara. Ini terbukti efektif sih buatku. Jadi gak chat numpuk bales2an gitu.

      Nah begitupun dengan telfonan, aku suruh orang disebrang sana cerita aja, mau panjang banget ya biar aja, aku cuma bales dengan “ya? terus?” ataupun aku potong dengan beberapa pertanyaan kaya “kok bisa gitu?” atau “kamunya gimana? dianya gimana?” dan lain2.

      Itu pertanyaan cuma buat membuka lanjutan cerita aja sih.

      Pasalnya… kita gakbisa nyuruh dia untuk cerita seperlunya. Kecuali dari awal, kamu udah membuka ajakan untuk dia bercerita seperlunya. Tapi balik lagi ya, kalau kamunya anteng-anteng aja dengerin cerita dia yang detail, ya orang di sebrang sana juga akan ngerasa gak kenapa-napa – terus, menerus – sampai kapanpun.

      Aku udah ngetik panjang di jam kerja ku, hmm apakah sudah terjawab? Apakah belum? Apakah kamu sudah pasang wifi? Pasanglah biar lebih enjoy! 😛

      Bye dan terima kasih untuk komennya, soalnya aku jadi jawab sepanjang jalan kenangan wqwqwq.

    2. YA AMPLOP AKU BARU MAMPIR BLOG MU TERUS KAMU CEWE, TAPI AKU MALAH BALES DENGAN : MAS.

      MAAFKAN AKU YANG TIDAK FOKEUS INI. MAU AKU TRAKTIR APA TANE? EH ANDREA? EH MBA? ASTAGAH! *sungkem*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s